Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Masih banyak yang tidak bisa membedakan antara gender, jenis kelamin dan orientasi seksual. Padahal ketiga istilah itu sangat berbeda sekali definisi dan maknanya. Konsep-konsep tersebut sebenarnya bisa saja kita pelajari melalui buku-buku, tapi nggak jarang juga, kita merasa berat dan penat jika harus terus menerus membaca. Untuk itu, ada cara belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan, yaitu secara daring, salah satunya melalui website Future Learn.

Saya sudah dan sering sekali menggunakannya untuk mempelajari mengenai isu gender. Platform yang satu ini, saya rekomendasikan untuk kamu yang ingin belajar banyak hal berbeda yang mungkin tidak bisa kamu pelajari di sekolah atau kampus dengan waktu yang fleksibel. Metode pembelajarannya pun asik sekali, ada media seperti artikel, audio, video, kuis, kolom komentar dan kalau beruntung beberapa bahkan menawarkan zoom meeting. Semuanya memiliki transkrip, video pun sudah dilengkapi dengan closed caption sehingga saya pikir cukup inklusif. Tambahan lagi, mata pelajaran yang ditawarkan diajarkan langsung oleh dosen atau praktisi yang mumpuni di bidangnya.

Sayangnya, tentu saja, mata pelajaran yang di tawarkan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Ini mungkin akan menyulitkan kamu yang tidak lancar berbahasa Inggris. Apalagi Bahasa Inggris memang bukan bahasa yang umum di gunakan di Indonesia. Sifatnya masih bahasa asing, bukan second language apalagi native language untuk mayoritas orang Indonesia. Tapi, boleh banget di coba kalau kamu tertantang untuk sekalian belajar bahasa Inggris.

Selama menjadi pengguna aktif Future Learn yang sok sibuk belajar gender, saya punya beberapa rekomendasi mata pelajaran yang bisa kamu ambil kalau kamu juga ingin belajar mengenai gender di sini. Berikut list-nya:

Understanding Gender Inequality

Ini mata pelajaran pertama yang harus banget kalian ambil. Disediakan oleh University of Exeter dengan Dr. Emma James sebagai pengampunya. Para pembelajar akan diajak untuk mengeksplorasi gender selama 4 minggu. Di minggu pertama, fokus membahas mengenai apa itu gender, kata-kata kunci yang sering digunakan ketika berbicara mengenai gender dan apa artinya dan tentu saja sejarah singkat mengenai ketidaksetaraan gender. Minggu kedua akan fokus pada ketidaksetaraan gender di tempat kerja. Minggu ketiga akan membahas ketidaksetraan gender dalam konteks yang lebih luas, seperti di media, di ruang politik bahkan di rumah. Di minggu terakhir akan fokus pada kesimpulan dan refleksi.

Gender Representation in the Media

Ini cocok untuk kalian yang tertarik di bidang media, baik media cetak, elektronik atau media baru (new media; internet) dan isu gender di dalamnnya. Disediakan oleh University of Strathclyde Glasgow dan di ampu oleh Karen Boyle, Rachael Alexander dan Petya Eckler. Mata pelajaran ini terbilang ‘berat’ dan melelahkan, mengingat yang di bahas sangat padat. Di saat yang bersamaan, mata pelajaran ini juga sangat mengasyikkan. Kurikulum dalam mata pelajaran ini disusun untuk 7 minggu, cukup lama dibandingkan mata pelajaran lainnya. Pembahasannya pun sangat beragam mulai dari definisi dan konsep utama, media yang berkaitan dengan jurnalisme atau pun fiksi, bagaimana media membingkai isu politik, kekerasan, olahraga, bagaimana tubuh perempuan di seksualisasi dalam media, hingga media yang feminis dan media digital.

A Global History of Sex and Gender: Bodies and Power in the Modern World

Siapa bilang belajar sejarah itu membosankan? Disini sama sekali ga membosankan, malah dapat sudut pandang baru. Kita akan belajar bersama Tanya Cheadle, Hannah Telling, dan Maud Anna Bracke dari University of Glasgow. Kurikulum yang disediakan adalah selama 4 minggu dimana kita akan diajak menyelami kaitan antara gender dan power di minggu pertama serta kaitannya dengan Me Too Movement. Di minggu kedua akan mengeksplorasi mengenai sex dan intimasi, mulai dari bagaimana keduanya ‘di atur’ dan ‘di bebaskan’ dalam konteks 1960 sampai sejarah queer. Minggu ketiga fokus pada kerja dan pengasuhan, bagaima peran perempuan dalam ke dua hal itu. Minggu keempat akan menyinggung mengenai sejarah gerakan feminisme itu sendiri.

Ketiga mata pelajaran tersebut menyenangkan untuk di pelajari. Sayangnya, perlu di ingat bahwa semua mata pelajaran itu sangat Eropa-sentris sehingga bisa jadi konteksnya akan berbeda dengan apa yang ada di Asia atau bahkan Indonesia. Kalau sudah selesai belajar, kalian juga akan di tawarkan pilihan untuk membeli sertifikat tanda bahwa kalian sudah selesai belajar mata pelajaran tersebut. Dibeli atau tidak itu pilihan kalian masing-masing ya. 

Penulis: Rizki Febriani

Sumber Gambar: Freepik

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *