Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Hometown Cha-Cha-Cha secara ringan menyajikan pelajaran hidup dari segala aspek. Selain dari sisi romansa, salah satu yang cukup menyorot perhatian adalah soal gaya hidup. Jika banyak penonton yang membahas gaya hidup Hong Du Sik yang terkenal sebagai pemuda desa yang gila kerja, ternyata gaya hidup work-life balance Hye Jin juga gak kalah seru untuk dibahas.

Hye Jin adalah karakter yang digambarkan sebagai perempuan karir yang perfeksionis dan ambisius. Selain itu, ia memiliki karir yang bagus dan memiliki kehidupan yang nyaman sebagai dokter gigi di Seoul.

Hingga suatu ketika, Hye Jin mendapatkan dirinya terkena masalah di pekerjaannya. Tak disangka, masalah tersebut ternyata menjadi titik balik kehidupan seorang Hye Jin. Ia akhirnya memutuskan untuk pindah ke suatu desa bernama Gongjin dan membuka klinik gigi disana. Keputusan tersebut terdengar agak aneh, terlebih Hye Jin adalah sosok perempuan modern dan memiliki gaya hidup serta prestise yang tinggi.

Menengok ke belakang saat Hye Jin masih duduk di bangku kuliah, ia merupakan mahasiswa yang rajin dan pekerja keras. Sembari kuliah, ia juga sibuk bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya sendiri. Semua ia lakukan hingga tak jarang ia lupa makan dan kurang memperhatikan dirinya sendiri. Terbiasa menjadi sosok tangguh sejak muda dengan minimnya kasih sayang orang tua, hal tersebut membuat Hye Jin menjadi sosok dewasa dengan idealisme tinggi.

Melihat karakter Hye Jin tersebut, semua orang pasti setuju kalau keputusannya pindah ke desa adalah hal yang tidak cocok bagi Hye Jin. Desa Gongjin digambarkan sebagai tempat yang sangat jauh dari pusat kota, minim fasilitas, dengan warga setempat yang suka ikut campur. Namun siapa sangka kalau tempat ini membuat Hye Jin mencapai apa yang disebut work-life balance.

Bagaimana Mencapai Work-life Balance?

Dilansir dari glints.com, work-life balance adalah suatu kondisi di mana seorang pekerja bisa mengatur waktu dan energi yang seimbang antara pekerjaan, kebutuhan pribadi, rekreasi, dan kehidupan berkeluarga. Work-life balance sebenarnya adalah harapan semua orang. Dengan work-life balance, seseorang akan merasa lebih bahagia dengan melakukan pekerjaannya dan masih bisa memenuhi kebutuhan untuk mengeksplorasi diri dan menjalin hubungan interpersonal.

Jika kita perhatikan, dengan membuka klinik di Gongjin, Hye Jin memiliki kehidupan yang lebih seimbang dibanding saat ia bekerja di Seoul. Meski tidak diperlihatkan dengan jelas bagaimana kehidupannya sebagai Seoul citizen, namun kita bisa menangkap bahwa Hye Jin adalah sosok yang individualis dan dunianya dibuat sibuk dengan fokus bersaing secara prestasi dan pekerjaan.

Berbeda dengan saat ia hidup di Gongjin, Hye Jin si individualis perlahan bisa hidup bermasyarakat. Tanpa mengubah jam kerjanya, Hye Jin tetap memiliki waktu untuk mengkikuti kerja bakti, rapat desa, dan kegiatan bersama lainnya. Ditambah lagi, dunia Hye Jin lebih berwarna saat ia menjalin hubungan romansa dengan Hong Du Sik.

Pola hidup yang semula serba tertata di kota metropolitan, kini mulai berubah saat ia tinggal di Gongjin. Walau harus mengalami kesulitan beradaptasi dan mencoba mencerna nilai-nilai baru, semua terbayarkan dengan rasa bahagianya ketika ia tinggal di desa secantik Gongjin. Hye Jin terlihat menikmati hidup dengan memiliki waktu rekreasi yang cukup.

Selain itu, ada sebuah prinsip yang dipegang oleh Du Sik bahwa kita selalu memiliki otoritas untuk membagi antara waktu bekerja dan libur. Meski ia bekerja di berbagai tempat, Du Sik masih punya banyak waktu untuk melakukan hobi surfing. Ia percaya bahwa You Only Live Once (YOLO), sebuah prinsip memotivasi agar hidup kita menjadi bermakna dan diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Prinsip itu pun sangat bisa diterapkan untuk mencapai work-life balance.

Sebuah situs jasa konsultasi pengembangan diri coursecorrectioncoaching.com memberikan tiga cara mudah untuk mencapai work-life balance antara lain:

  • Prioritaskan apa yang benar-benar penting (dan tinggalkan sisanya)
  • Mampu mengendalikan pekerjaan (bekerja tidak melampaui batas)
  • Milikilah hidup yang sederhana

Jangan sampai menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bekerja, sampai lupa mengurus kebutuhan fisik dan mental kita. Terlalu sibuk tidak sama dengan produktif ya! Cha-Cha-Cha!

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *