Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Pada bulan Maret lalu, dunia Percaturan Indonesia dihebohkan dengan kemunculan Dewa_Kipas. Dewa_Kipas sendiri adalah username dari akun Chess.com yang diketahui milik Dadang Subur. Kehebohan ini terjadi ketika sebuah postingan Facebook dari akun Ali Akbar mengatakan bahwa akun sang ayah, Dadang Subur, dengan username Dewa_Kipas, telah ditutup oleh Chess.com dengan tuduhan curang dalam permainan.

Dalam postingannya Ali Akbar mengatakan bahwa akun sang ayah dilaporkan oleh lawan mainnya yang diketahui adalah akun GothamChess lantaran tidak terima dikalahkan oleh Dewa_Kipas. GothamChess adalah akun milik Levy Rozman, seorang pecatur dengan gelar International Master sekaligus seorang streamer pada platform Youtube dan Twitch.

Viralnya postingan Ali Akbar ini berhasil memancing amarah warganet yang tidak terima dengan perlakuan GothamChess, sehingga warganet berbondong-bondong menyerang media sosial GothamChess dengan berbagai hujatan. Tidak hanya serangan warganet, bahkan kasus ini juga diberitakan dalam media.

Menurut kalian apakah tindakan warganet ini adalah hal yang benar? Meskipun Dewa_Kipas disebut sebagai pemain yang hebat, apakah perlu membela anak bangsa dengan cara menghujat orang lain? Pada kenyataannya warganet hanya melihat kasus ini dari sisi postingan Ali Akbar saja.

Menghujat melalui sistem jaringan alias Cyber bullying

Hujatan yang dilontarkan oleh warganet ini dapat dikategorikan sebagai cyber bullying. Dilansir melalui UNICEF, cyber bullying merupakan perilaku berulang yang ditujukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan mereka yang menjadi sasaran menggunakan teknologi digital, dalam konteks ini yang dimaksud adalah media sosial. 

UNICEF juga memberikan beberapa contoh terkait cyberbullying, salah satunya adalah trolling, yaitu pengiriman pesan yang mengancam atau menjengkelkan di jejaring sosial, ruang obrolan, atau online game. Hal inilah yang terjadi kepada Levy Rozman. Ia mendapatkan berbagai komentar tidak sedap di media sosialnya, termasuk dalam live chat streaming Youtube nya.

Hujatan yang diutarakan kepada GothamChess hanya satu dari sekian banyak kasus cyberbullying yang pernah terjadi. Saat ini cyberbullying sudah menjadi suatu hal yang sangat biasa terjadi, terutama di media sosial. Yang paling sering terdengar tentu saja kasus yang melibatkan public figure.

Jika melibatkan public figure kita sudah banyak mendengar bagaimana mereka mengatasi cyber bullying. Hampir setiap hari mereka menerima komentar negatif dari banyak orang. Namun juga ada beberapa di antaranya yang memilih untuk diam dan merasa tertekan. Di antaranya juga mendapatkan kekuatan dari para penggemar. Bayangkan jika hal ini terjadi kepada orang biasa?

Siapapun bisa menjadi target cyber bullying, termasuk masyarakat biasa. Kemudahan mengakses media sosial, memudahkan juga masyarakat untuk mengutarakan opini sesuai kehendaknya. Terkadang pelaku juga tidak menyadari opininya dapat menyakiti pihak tertentu, atau malah bisa menjerumuskannya ke dalam bahaya.

Persembunyian Manusia di Balik Dunia Maya

Dilansir melalui Kompas.com, berdasarkan studi yang dilakukan Microsoft selama tahun 2020, warganet Indonesia disebut sebagai pengguna sosial media paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Entah warganet Indonesia mengetahui tentang studi ini atau tidak, tentunya ini bukanlah suatu hal yang dapat dibanggakan. Hal ini akan membuat citra bangsa Indonesia buruk di dunia maya.

Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi kepada bangsa kita? Melalui Kompas.com pengamat sosial media Yohannes Widodo bersuara mengenai perilaku warganet Indonesia di media sosial. Beliau mengatakan jika perilaku yang ditunjukkan di media sosial merupakan representasi di dunia nyata.

Widodo menambahkan jika pada komunikasi secara langsung kita terkondisi untuk berperilaku sopan karena ada batas psikologis. Namun di media sosial batas psikologis dan penghargaan itu nyaris hilang. Dan lagi kita sulit untuk mengidentifikasi pesan dari seseorang melalui media sosial karena kita tidak tahu apakah orang yang bersangkutan sedang marah atau hanya bercanda.

Selain itu, pengamat budaya dan komunikasi digital Universitas Indonesia Firman Kurniawan mengatakan bahwa buruknya etika bermedia sosial disebabkan oleh sebuah kelompok masyarakat yang menggunakan media sosial sebagai tempat untuk mengutarakan pendapat yang tidak bisa mereka sampaikan di dunia nyata.

Kelompok masyarakat ini juga merasa bahwa tidak ada yang ingin mendengarnya dalam komunikasi yang bersifat dialogis. Mereka ingin eksistensinya diakui, maka dengan mudahnya mereka memberikan komentar apapun sesuai kehendaknya pada postingan orang lain sehingga tujuan komunikasinya tercapai.

Firman menilai bahwa media sosial didominasi oleh kelompok ini sehingga etika kelaziman dalam berkomunikasi mulai diabaikan. Hal ini juga didorong dengan adanya identitas anonim dalam media sosial sehingga seseorang merasa lebih nyaman dalam beropini bahkan menjadi liar dan toxic karena identitasnya tidak diketahui.

Tidak jarang kita melihat kasus cyberbullying dilakukan oleh orang beridentitas anonim. Maraknya cyberbullying hanya menjadi ajang unjuk gigi. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, untuk mencapai tujuan komunikasinya, kelompok-kelompok ini ingin eksistensinya diakui. Singkatnya mereka hanya ingin mencari perhatian.

Lalu bagaimana cara kita mengatasi cyberbullying

Boleh dibilang, usaha yang paling minimal adalah mencoba untuk tidak merespons komentar-komentar negatif. Apabila kita terpancing untuk menghujat kembali, maka kita hanya membantu memuaskan pelaku untuk memenuhi tujuannya. Namun apalah daya sebagian dari kita banyak yang terpancing akan komentar negatif.

Hal lain yang bisa kita lakukan untuk mengatasi cyberbullying adalah melakukan report terhadap akun yang melakukan cyberbullying. Dimulai dari diri sendiri, hingga mengajak teman-teman terdekat untuk melakukan hal yang sama. Sehingga pelaku tidak menyadari pergerakan warganet dan menghalangi tujuan komunikasinya.

Meskipun cyberbullying terjadi di dalam dunia digital, namun hal ini juga bisa mengganggu mental dari target bully. Karena perilaku ini dilakukan secara berulang dengan tujuan destruktif, lama-lama mental korban juga dapat terkikis.

UNICEF juga menjelaskan beberapa dampak dari cyberbullying. Pertama korban akan merasakan bahaya di manapun, bahkan di dalam rumah, karena cyberbullying terjadi secara online, korban dapat diserang dari mana saja. Efek dari cyberbullying ini juga relatif berlangsung lama. Secara mental, korban akan menjadi lebih emosional, entah mudah marah atau merasa malu dan bodoh. Jika terus berlanjut hal ini juga membuat korban lama-kelamaan kehilangan minat pada hal-hal yang disukainya. Perasaan takut akan ditertawakan dan dilecehkan membuat seseorang enggan untuk membicarakan bahkan mengatasi masalahnya.

Jagalah etika dalam berkomunikasi baik secara daring maupun tatap muka. Perilaku kita mencerminkan kepribadian kita. Jadilah pembicara yang santun di manapun kita berada, sekalipun di dunia maya. Mulutmu harimaumu, jangan sampai apa yang kita utarakan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Keep your healthy communication! 

Penulis: Annisa

Sumber Gambar: Freepik

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *