Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Dilansir melalui World Cancer Report 2020, World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa kanker menjadi salah satu penyakit mematikan di dunia. Kanker menjadi penyakit pertama yang menyebabkan kematian dini di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Singapura, dan Australia, dan penyakit mematikan kedua di negara seperti Brasil, Cina, termasuk Indonesia.

Tak heran, pembicaraan mengenai kanker, pengobatannya, dan apa yang perlu dilakukan mencegah penyakit ini selalu menjadi topik hangat. Dan ternyata, masih cukup banyak mitos seputar kanker yang beredar dan dipercaya masyarakat. Berikut beberapa fakta dan mitos yang harus kamu ketahui tentang kanker.

Setiap Orang Memiliki Sel Kanker

Mitos: Dikutip melalui Kompas.com, pernyataan ini muncul karena pemahaman bahwa sel di tubuh manusia memiliki potensi untuk menjadi sel kanker. Meski begitu, bukan berarti setiap manusia memiliki sel kanker tersebut. Para peneliti menemukan bahwa ada 2 penyebab yang sekiranya memunculkan sel kanker, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Sel kanker terbentuk karena adanya mutasi gen atau perubahan susunan pada gen melalui faktor genetik atau lingkungan. 

Kanker Payudara dan Serviks Merupakan Kanker Paling Umum Diderita Perempuan Indonesia

Fakta: Meski kanker paru-paru menelan lebih banyak korban jiwa sebagai penyebab kematian kanker pada perempuan, kanker payudara dan serviks adalah dua penyakit kanker yang paling banyak dialami di Indonesia. Setiap tahun ada sekitar 2 juta perempuan yang didiagnosis mengalami kanker payudara. Untuk kanker serviks, setiap tahunnya ada 14 ribu perempuan yang didiagnosis mengalami kanker tersebut. 

Kanker Payudara Tidak Hanya Dialami oleh Perempuan

Fakta: Kanker payudara tidak hanya dialami oleh perempuan saja tapi laki-laki juga. Jumlahnya yang sedikit menyebabkan risiko kematian pada laki-laki lebih tinggi karena sering disepelekan. Karena sel kanker disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan, siapa saja tidak luput dari risiko penyakit ini terlepas dari jenis kelamin. Dari segi genetik, seorang anak laki-laki yang ibunya dulu terkena kanker payudara memiliki tingkat risiko lebih tinggi untuk terkena kanker yang sama. Dan dari segi faktor lingkungan, seorang laki-laki juga bisa terkena kanker sebab terlalu sering terpapar radiasi.

Infeksi Human Papillomavirus (HPV) pada Kanker Serviks Bisa Dialami Laki-Laki

Fakta: Human Papillomavirus (HPV) adalah penyebab dari munculnya kanker serviks yang dialami perempuan. Namun ternyata laki-laki juga bisa mengalami infeksi HPV jika tertular melalui hubungan intim. Klikdokter menjelaskan bahwa jika infeksi ini tidak disadari sejak dini maka dapat menyebabkan kanker seperti kanker penis, kanker anus, atau kanker tenggorokan. Gejala yang dialami laki-laki ketika mengalami infeksi ini antara lain adanya kutil, luka, bercak putih, atau lepuhan di sekitar alat kelamin. 

Memakai Bra Terus-menerus Menyebabkan Kanker Payudara

Mitos: Ada yang menyebutkan bahwa pemakaian bra dalam waktu lama atau pemakaian bra berkawat dapat menyebabkan kanker payudara. Pernyataan ini ada sejak beberapa dekade lalu dan terus dibesarkan praktisi medis alternatif di situs lifestyle seperti Goop. Jika ditelusuri ke belakang, belum ada dokter atau peneliti kesehatan yang mengkonfirmasi pernyataan tersebut. Melansir jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers, & Prevention (2014), tidak ada hubungannya antara penggunaan bra dengan kanker payudara. 

Kanker Tidak Bisa Dicegah atau Diobati

Fakta: Kanker BISA dicegah atau diobati. Namun, kurangnya sosialisasi dan tindakan inisiatif pencegahan secara dini mengakibatkan penyakit ini terkenal mematikan. Dalam kasus kanker payudara, menurut Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) sebanyak 70 persen pasien kanker payudara datang berobat sudah dalam keadaan stadium lanjut. Ini dapat menunjukkan bahwa banyak pasien yang belum menyadari pentingnya memeriksakan diri lebih awal untuk mencegah kanker bertambah parah.

Hal ini juga bisa menunjukkan bahwa sosialisasi dari pemerintah atau tenaga medis masih kurang gencar sehingga masih sedikit tindakan preventif. Layanan terhadap kesehatan reproduksi memang disediakan oleh pemerintah melalui puskesmas, namun akses masyarakat ke tempat tersebut yang harus ditempuh dengan waktu yang lama.

Selain itu, kurangnya pemerataan sosialisasi menyebabkan beberapa laki-laki tak sadar mereka terkena kanker payudara. Ada juga kasus tentang seorang perempuan yang tidak mengikuti pemeriksaan karena terhalang suami mereka. Persoalannya sederhana, sebab banyak yang masih menganggap tabu pemeriksaan terhadap organ reproduksi.

Faktanya, baik untuk laki-laki atau perempuan, kanker bisa dicegah atau diobati ketika sosialisasi yang merata bersamaan dengan melakukan tindakan pemeriksaan sedari dini.

Penulis: Greta Theresia N.

Sumber gambar: Freepik

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *