Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Kala itu, ketika saya pulang kuliah dan berjalan seorang diri di jalanan yang sepi, tiba-tiba dari belakang ada yang menyentuh bagian tubuh pribadi saya. Saya sangat terkejut! Tidak ada yang bisa saya lakukan selain membeku melihat seorang laki-laki yang sedang mengendarai motor melewati saya dengan senyuman puasnya. Saya yakin, pasti ia pelakunya!

Kasus kekerasan terhadap perempuan tidak pernah luput dari headline berita media, baik saat ini maupun waktu lampau. Di Indonesia kasus kekerasan terhadap perempuan menjadi salah satu masalah yang butuh upaya keras dalam pembenahannya oleh semua pihak. Berdasarkan data komnasperempuan.go.id, sepanjang tahun 2020 jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan tercatat sebanyak 299.911 kasus.

Kekerasan terhadap perempuan termasuk kekerasan berbasis gender atau gender based violence. Disebut kekerasan berbasis gender karena kekerasan yang dialami oleh perempuan terjadi karena adanya kesenjangan atau perbedaan relasi gender.

Menurut Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, kekerasan berbasis gender ialah setiap tindakan perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual dan fisiologis termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi.

Dalam Pasal 2 Deklarasi Penghapusan Terhadap Perempuan, menyatakan bahwa kekerasan terhadap wanita meliputi kekerasan fisik, seksual dan psikis yang terjadi di dalam keluarga dan di dalam masyarakat, seperti penganiayaan, perkosaan dalam perkawinan, intimidasi perempuan di lingkungan kerja, perdagangan wanita, dan sebagainya.

Lalu, sebenarnya apa ya penyebab adanya kesenjangan relasi gender? Danik Fujiati, dalam jurnalnya yang berjudul “Relasi Gender Dalam Institusi Keluarga Dalam Pandangan Teori Sosial dan Feminis”, menyatakan adanya kesenjangan relasi gender bermula dari keluarga. Anak yang lahir sebagai laki-laki, otomatis oleh orang tuanya akan diberikan sinyal yang berbau maskulin, mulai dari mainan (pistol, pedang, mobil-mobilan, dan lain-lain), warna, gambar baju, dan tokoh permainan yang diperkenalkan juga bernuansa maskulin, heroik, dan kuat.

Sebaliknya, anak yang lahir sebagai perempuan, akan disuguhi dengan hal-hal yang bernuansa feminin. Misalnya boneka, mainan masak-masakan, dan berbagai atribut yang penuh dengan kelembutan dan non heroik. 

Tujuan dari semua itu adalah, agar laki-laki memiliki karakteristik “kejantanan” atau masculinity, sedangkan perempuan memiliki karakteristik “kewanitaan” atau feminity. Dengan karakter tersebut, akhirnya perempuan dipersepsikan sebagai manusia yang lemah, gemulai, dan lembut. Sebaliknya, laki-laki dipersepsikan sebagai manusia perkasa, tegar, kuat, dan agresif. Laki-laki dianggap lebih cerdas dan lebih kuat dalam banyak hal daripada perempuan. Anggapan seperti inilah yang menjadikan laki-laki memiliki peran gender dan status yang lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Perbedaan peran, kedudukan, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat bahkan negara akan menyebabkan terjadinya kesenjangan atau ketimpangan relasi gender antara laki-laki dan perempuan, akibatnya terjadilah diskriminasi bahkan tindak kekerasan terhadap perempuan.

Kesenjangan relasi gender tersebut, membentuk dua macam relasi yang berbeda, yaitu relasi superior dan relasi inferior. Alfred Adler, mengemukakan pendapatnya bahwa inferior adalah ketika suatu pihak merasa lebih rendah dibanding pihak lain, sedangkan superior yaitu pihak yang merasa lebih tinggi dan berkuasa atas segalanya. Dalam hal ini perempuan adalah inferior dan laki-laki adalah superior. Laki-laki merasa benar dan dibenarkan untuk menguasai serta mengontrol perempuan. Pembenaran ini menyebabkan laki-laki bersikap seenaknya terhadap perempuan.

Untuk lebih jelasnya, kita simak yuk contoh kekerasan terhadap perempuan di bawah ini: 

  1. Seorang suami tidak memiliki pekerjaan tetap, sedangkan di lain pihak ia harus menghidupi istri dan keluarganya. Karena kondisi keuangan tersebut, ia menjadi mudah melakukan tindak kekerasan kepada istri, seperti membentak, memarahi atau bahkan menampar apabila istri meminta uang untuk keperluan sehari-hari. 
  2. Sepasang suami istri memiliki penghasilan berbeda, dimasa sang istri memiliki penghasilan yang lebih banyak daripada sang suami. Karena suami merasa tidak mampu untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar, ia menjadi mudah melakukan kekerasan terhadap istrinya dan menuntut sang istri untuk berhenti bekerja.

Contoh di atas menunjukkan perempuan menduduki relasi inferior dan laki-laki menduduki relasi superior. Laki-laki merasa harus menjadi penguasa dan pengontrol kehidupan perempuan, terlebih lagi jika ia sudah menikah, seluruh kehidupan sang istri harus berada di bawah kendalinya. Hal inilah yang menyebabkan relasi superior dan inferior menjadi pemicu kekerasan terhadap perempuan.

Penulis: Salsa Destiana

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *