Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Nama Saipul Jamil naik daun akhir-akhir ini, namun bukan karena prestasinya melainkan karena skandal yang ia ciptakan segera setelah ia bebas dari LP Cipinang pada Kamis, 2 September 2021 lalu. Bang Ipul, sapaan akrabnya sebelumnya telah menjalani masa tahanan selama 5 tahun karena melakukan kekerasan seksual pada 2 remaja. Ia juga divonis 3 tahun penjara karena menyuap panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Sehingga total hukuman yang ia terima adalah 8 tahun penjara, namun ia menyelesaikan masa tahanannya dengan total 5 tahun 7 bulan.

Segera setelah ia keluar, ia disambut dengan gembira. Dikalungi bunga dan diarak menggunakan mobil mewah. Prosesi penyambutan keluarnya Saipul Jamil tentu saja ramai diberitakan. Tak tampak rasa malu atau menyesal di wajahnya, ia terlihat gembira bisa terbebas dari kurungan penjara. Tak menunggu waktu lama pun, wajahnya kembali menghiasi pertelevisian Indonesia. Beberapa bahkan mengadakan wawancara eksklusif dengan Saipul Jamil dan dalam salah satu wawancara tersebut ia mengaku bahwa ia tidak dendam dengan korban yang membuatnya dipenjara.

Kasus ini kemudian menuai pro-kontra. Banyak public figure lain yang bersuara menolak kembalinya Saipul Jamil ke media massa. Salah satu yang vokal adalah Zoya Amirin. “Sedihnya buat saya ketika ada pelaku, mau dia Saipul Jamil maupun siapapun itu menurut saya dikasih ruang oleh media, dikasih ruang, dielu-elukan, lebih miris,” kata Zoya (suara.com).

Seruan untuk memboikot Saipul Jamil dari layar kaca pun muncul. Petisi dengan judul Boikot Saipul Jamil Mantan Narapidana Pedofilia, Tampil di Televisi Nasional dan Youtube berhasil menembus 500.000 tanda tangan (tribunnews.com). Buntutnya, Komisi Penyiaran Indonesia pun mengambil sikap.

Sikap KPI dalam Kasus Saipul Jamil

Banyaknya tandatangan yang berhasil dikumpulkan melalui situs change.org untuk memboikot Saipul Jamil mendapatkan balasan dari KPI. Pada awalnya, KPI mengatakan bahwa mereka telah mengirimkan surat kepada 18 stasiun televisi nasional pada Senin, 6 September 2021. Isi suratnya adalah agar televisi nasional tidak melakukan amplifikasi dan glorifikasi terhadap pembebasan Saipul Jamil di layar kaca. KPI juga meminta agar stasiun televisi lebih berhati-hati dalam menayangkan perbuatan yang dianggap bertentangan dengan norma dan adab.

Ketua KPI Pusat, Agung Suprio kemudian menegaskan dalam podcast Deddy Corbuzier pada Kamis, 9 September 2021 bahwa Saipul Jamil tetap boleh tampil di televisi jika muatannya adalah edukasi. Ia mencontohkan muatan yang dimaksud adalah tayangan tentang bahaya predator seksual. Ini kemudian kembali menuai kecaman dari berbagai pihak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga angkat suara untuk menanggapi pernyataan Agung Suprio.

KPAI menjelaskan bahwa tayangan yang ditujukan kepada anak-anak harus memperhatikan beberapa aspek seperti aspek sosial, budaya, pendidikan, agama dan kesehatan dengan memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak-anak. Sementara, tayangan yang menampilkan figur pelaku kekerasan seksual tidak baik untuk anak-anak, karena jika berlebihan akan berdampak negatif bagi perkembangan anak. Salah satu dampak negatifnya adalah imitasi yang dilakukan anak-anak. Dampak selanjutnya adalah menimbulkan kesan bahwa menjadi pelaku kekerasan seksual adalah hal yang normal. Selain itu juga mengganggu ketentraman masyarakat dan korban (suara.com).

Senin, 13 September 2021, pasca mendapatkan banyak kritikan termasuk dari KPAI, KPI kembali mengklarifikasi. Melalui Mulyo Hadi Purnomo, komisioner KPI ia mengucapkan permintaan maaf atas diksi yang digunakan oleh Agung Suprio dalam program Sapa Indonesia Pagi Kompas TV. “Karena itu atas nama KPI, saya menyampaikan minta maaf atas pernyataan yang tidak tepat tersebut,” imbuh Mulyo (nasional.kompas.com). Ia juga menyampaikan bahwa KPI sudah mengirimkan surat kepada lembaga penyiaran dan stasiun televisi agar lebih berhati-hati dalam menampilkan Saipul Jamil. Hati-hati yang dimaksudkan adalah ketika menampilkan hendaknya dilakukan blur atau sensor dari pihak televisi sendiri agar tidak mendapatkan teguran dari KPI.

Dari stasiun televisi sendiri, menurut Mulyo banyak yang berkomitmen untuk tidak lagi menampilkan Saipul Jamil, baik itu disampaikan secara langsung melalui surat maupun melalui WhatsApp. Beberapa stasiun televisi yang sudah pernah menampilkan Saipul Jamil pun sudah ada yang membuat permintaan maaf secara terbuka kepada publik. “Teman-teman lembaga penyiaran yang lain sudah menyampaikan secara lisan dan WhatsApp tentang yang sudah disampaikan bahwa berkomitmen dengan apa yang kami kirimkan, sangat memahami keinginan publik agar hal seperti ini tidak terulang kembali,” tutur Mulyo (kompas.com).

Kasus Kekerasan Seksual yang Melahirkan Gerakan Me Too

Jika berkaca dari kasus Saipul Jamil, media penyiaran dan perangkat pengawasan seperti KPI agaknya masih gagap dalam menangani public figure yang menjadi pelaku kekerasan seksual. Padahal, jika direfleksikan ada banyak kasus di luar sana dimana public figure menjadi pelaku kekerasan seksual. Indonesia bisa belajar banyak dari kasus-kasus tersebut. Kasus yang paling fenomenal bisa jadi adalah kasus Harvey Weinstein yang menggemparkan Hollywood.

Weinstein adalah seorang produser yang film-filmnya rajin memenangkan penghargaan Oscar. Tetapi pengadilan New York membuktikan ia bersalah pada kasus pemerkosaan dan kejahatan kriminal bernuansa seksual kepada Mimi Haley atau Jessica Mann. Kasus ini mengakhiri karir Weinstein.

Disaat bersamaan kasus ini juga membangkitkan gerakan me too. Gerakan me too dimulai jauh sebelum kasus Weinstein oleh Tarana Burke. Namun, menjadi semakin terkenal sebagai cara untuk bersolidaritas dan berbicara. Korban yang mengaku sebagai penyintas akan menggunakan tagar me too ketika mengunggah cerita mereka di sosial media. Ini kemudian memancing keberanian korban lainnya untuk berbicara. Sehingga timbul efek berantai, dimana banyak penyintas yang berbicara dan mengungkapkan kasusnya.

Energi dari gerakan me too pun tidak dibiarkan tenggelam begitu saja. Justru diamplifikasi dengan hadirnya platform seperti Time’s Up, yang kemudian melakukan perubahan struktural dan politik yang nyata di Hollywood. Kasus Weinstein menyebabkan banyak agensi dituntut untuk melakukan reformasi kebijakan karena mereka dianggap tidak melindungi para pekerjanya. Dari situ, serikat pekerja dan artis, SAG-AFTRA sejak tahun 2018 meminta produser dan eksekutif lainnya agar menghindari permintaan bertemu di lokasi yang dianggap beresiko tinggi seperti rumah privat atau kamar hotel. SAG-AFTRA juga merilis 7 halaman code of conduct (chicagotribune.com).

Burning Sun dan Pengunduran Diri Seungri

Seungri adalah salah satu anggota dari Big Bang, boy band asal Korea Selatan yang dijuluki King of K Pop, karena kontribusi serta pencapaian mereka dalam industri hiburan di Korea Selatan. Tahun 2019 lalu, nama Seungri terseret dalam kasus Burning Sun yang dianggap sebagai skandal seks dan hiburan yang besar karena melibatkan banyak artis di dalamnya. Kasus ini bermula dari investigasi polisi di sebuah klub bernama Burning Sun. Hasil investigasi ini menemukan kaitan antara kasus prostitusi online, penyebaran video intim tanpa konsen, perkosaan, judi ilegal dan penggunaan narkoba.

Saat investigasi ini dimulai Seungri masih menjadi anggota aktif Big Bang. Namun, pada 2019 ketika investigasi masih terus berlanjut dan menyeret semakin banyak public figure, ia memilih untuk mengundurkan diri dari Big Bang, YG Entertainment, agensi yang menaunginya dan Big Bang serta dunia hiburan Korea Selatan secara keseluruhan. Nama-nama lain seperti Lee Jong-Hyun, anggota boy band CN Blue dan Choi Jong-Hoon, anggota band FT. Island. Keduanya juga mengundurkan diri dari dunia entertainment begitu nama mereka diseret.

Setelah kurang lebih 2 tahun proses investigasi, Seungri dinyatakan bersalah dan menerima hukuman kurungan penjara selama 3 tahun.

Berkaca dari raksasa dunia hiburan seperti Hollywood dan Kpop yang sudah pernah menghadapi kasus dimana public figure menjadi pelaku kekerasan seksual, kita bisa melihat bahwa karir dunia hiburan para pelaku hampir pasti akan berhenti. Baik berhenti karena tekanan masyarakat dan keengganan media untuk kembali menampilkan mereka atau karena para pelaku itu sendiri yang sadar dan memilih untuk mengundurkan diri dari dunia hiburan. Sementara di Indonesia, hmmmm, sepertinya kita masih harus banyak belajar bagaimana menyikapi public figure yang menjadi pelaku kekerasan seksual. Semoga kasus Saipul Jamil ini dapat membawa perubahan di industri entertainment dalam mengelola serta menyikapi kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh public figure, siapa tahu kedepan kita juga memiliki code of conduct yang spesial mengatur hal ini.

Penulis: Rizki Febriani

Sumber Gambar: beritasatu.com

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *