Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Feminisme di Indonesia agaknya merupakan pembahasan yang sensitif dan mengemban label “feminis” pun tidak jauh dari kontroversi. Tak sedikit yang menolak dilabeli sebagai seorang feminis dengan alasan bermacam-macam, mulai dari dianggap bertentangan dengan agama hingga menyalahi kodrat seorang perempuan.

Ini juga yang saya rasakan di lingkungan pertemanan saya. Ketika saya berbicara mengenai feminisme, ada saja teman-teman yang langsung mengatakan bahwa mereka tidak setuju dengan ideologi ini.

Berat rasanya ketika mendengar bahwa ada yang menganggap feminisme haram, apalagi diucapkan oleh teman-teman satu lingkaran sendiri, seakan-akan mengecilkan apa yang saya tuntut dan saya perjuangkan. Ketika saya menolak kekerasan seksual atau pernikahan anak, apakah teman saya yang menolak feminisme berarti mendukungnya? Pikiran semacam ini membuat saya stress; hal yang menurut saya jelas-jelas tidak baik, masih didukung oleh teman saya.

Pertemanan kami sempat renggang, namun suatu ketika kami kembali duduk bersama dan berbicara. Dia kemudian menjelaskan ada nilai-nilai dalam feminisme yang tidak ia sepakati. Meski begitu, bukan berarti ia tidak mendukung isu yang juga disuarakan oleh feminisme. Sama seperti saya, ia tidak mendukung kekerasan seksual, ia tidak juga mendukung pernikahan anak karena lebih banyak hal buruknya daripada baiknya.

Mendengar ini, saya kembali teringat salah satu webinar dulu sekali pernah saya ikuti. Webinar tersebut membahas mengenai ekofeminisme dengan membedah perlawanan perempuan dalam membela alam tempat mereka tinggal. Sebelum webinar berlangsung, pemateri memberikan beberapa bahan referensi yang perlu kami baca, salah satunya adalah wawancara Dewi Candraningrum yang dimuat dalam balairungpress.com dengan judul Dewi Candraningrum: Feminisme Semestinya Tak Hanya Sekedar Kata.

Ada satu pertanyaan yang menurut saya menarik: “Seberapa penting gerakan feminisme di Indonesia?” Dewi Candraningrum kemudian menjawab, “Sebenarnya ‘feminisme’ itu tidak penting karena ia hanya sebuah kata. Hal yang penting itu nilai-nilainya.”

Kata-kata itu menohok saya karena dengung kebenarannya sangat nyata. Webinar yang saya ikuti pun membahas bagaimana ibu-ibu desa di Kendeng atau di Papua, misalnya, yang tidak tahu apa-apa soal feminisme, apalagi ekofeminisme. Tapi, mereka tetap memperjuangkan hak-hak mereka dan kedaulatan mereka atas tanah dan atas alam mereka. Mereka sadar bahwa jika alam dan tanah mereka dirusak saat ini, maka tidak akan ada yang tersisa untuk generasi berikutnya.

Dari sini, saya kembali merefleksikan pengalaman saya. Kita tidak perlu melabeli diri bahkan menjadi seorang feminis untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Karena label itu tidak penting. Yang penting adalah apa yang sudah kita lakukan hari ini untuk mengatasi atau bahkan menyelesaikan ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang ada di dunia.

Dalam hal ini, lagi-lagi saya percaya, small act matter, membuat unggahan di media sosial mengenai ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender, menuliskannya, mengorganisir kegiatan seperti diskusi, nonton bareng atau bahkan membuat aksi-aksi dan kampanye. Semuanya penting. Semuanya bagus. Terlepas dari menggunakan label feminisme atau tidak, mendukung feminisme atau menolaknya, selama semangatnya masih untuk memperjuangkan penghapusan ketidakadilan dan ketidaksetaraan, maka aku mendukungmu, kok.

Untuk teman-teman lain yang pernah berada di posisi saya, yuk gali lagi, siapa tahu temanmu memang tidak sepakat dengan feminisme tapi sebenarnya mendukung isu-isu yang juga kamu perjuangkan sebagai seorang feminis. Jadi, jangan rusak pertemananmu, ya. Kalau bisa, buat ruang kolaborasi dengan temanmu, sehingga dengan atau tanpa label feminis, semangat feminisme itu tetap menyala.

Penulis: Rizki Febriani

Sumber gambar: Freepik

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *