Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Dunia hiburan Korea Selatan baru-baru ini diramaikan dengan skandal seorang aktor bernama Kim Seon-ho. Skandal pemaksaan aborsi terhadap mantan kekasihnya, viral di media sosial hingga membakar amarah K-netz. Kasus ini semakin memanas dengan adanya boikot massal atau cancel culture terhadap Kim Seon-ho.

Pemeran karakter Hong Du-shik dalam drama Hometown Cha-cha-cha itu mendapat sanksi dari masyarakat berupa cancel culture. Budaya pengabaian ini sudah tidak asing lagi bagi pesohor di Korea Selatan, bahkan di dunia. Cancel culture bagaikan hakim di media sosial yang menentukan kelanjutan hidup seseorang.

Kim Seon-ho dikabarkan kehilangan kontrak kerja sama dengan beberapa produk yang dibintangi olehnya. Seon-ho juga dikeluarkan dari variety show 2D1N dan proyek film yang seharusnya akan menjadi debutnya di layar lebar. Melihat dampak yang dialami Seon-ho, masyarakat seakan-akan ingin menghilangkan sang aktor dari layar kaca.

Sebegitu besarnya pengaruh cancel culture untuk menghilangkan karir seorang figur publik. Sebenarnya, apakah cancel culture itu?

Aksi Boikot

Dilansir dari Kompas, menurut Lisa Nakamura, profesor dari University of Michigan, cancel culture merupakan “boikot budaya” terhadap selebriti, merek, perusahaan atau konsep tertentu. Masyarakat akan memboikot sesuatu yang menurut mereka tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku.

Biasanya cancel culture ini menyasar figur publik yang tersandung skandal yang bertentangan dengan norma sosial di masyarakat atau tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Tingkah target ini mendatangkan masalah sampai akhirnya terjadi boikot.

Dampak dari boikot ini beragam dan bertumpuk. Orang yang menjadi korban cancel ini bisa kehilangan pekerjaan serta kesempatan untuk kembali berkarir, karena tidak ada orang yang ingin menerimanya.

Citra dari cancelled—sebutan bagi korban cancel culture—akan selalu buruk di mata masyarakat. Selain kehilangan pekerjaan, cancelled akan terus mendapat tekanan berupa kekerasan secara verbal selama skandal atau masalah yang diperbuat oleh cancelled belum tuntas.

Cancel culture juga dapat menghilangkan pengaruh seseorang di mata publik, sehingga opini yang diutarakan tidak lagi kredibel dan tidak akan didengarkan oleh khalayak imbas citranya yang sudah jatuh.

Bagi cancelled, cancel culture menjadi sebuah teror. Mereka jadi tidak bebas dalam berpendapat dan berhati-hati agar tidak tersandung masalah.

Begitu pula yang dialami Kim Seon-ho. Ia tidak membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya. Meski begitu, belakangan muncul beberapa pihak yang membela Kim dan menyalahkan sang mantan yang dianggap manipulatif. Faktanya? Belum tahu.

Sebenarnya tidak hanya menyasar figur publik, aksi boikot juga kerap terjadi pada suatu brand atau produk tertentu yang dianggap tidak sesuai oleh masyarakat. Dampak yang terjadi kepada merek tersebut adalah kehilangan pasar dan konsumen. Jika terus berkelanjutan, brand yang bersangkutan bisa berakhir dengan gulung tikar.

Untuk saat ini, tren cancel culture banyak terjadi di media sosial. Aktivitas ini menyebar dengan sangat cepat melalui media sosial, ditambah jejak digital sangat sulit untuk dihilangkan.

Jadi Hakim Dunia Maya

Saat ini cancel culture kini cenderung mengarah ke cyberbullying. Tidak sedikit orang-orang yang berakhir menjelekkan seseorang secara verbal di media sosial ketika orang tersebut dicap sebagai cancelled. Bahkan selama masalah yang terjadi belum terselesaikan, bullying secara verbal dapat terus terjadi.

Padahal, ketika kita tidak setuju pada tindakan seseorang, merek, atau perusahaan tertentu, kita boleh saja memboikot untuk tidak menyaksikan atau menggunakan produk yang tidak sesuai dengan nilai yang kita punya. Namun, melakukan cyberbullying itu hal yang berbeda dan tidak dapat dibenarkan ya, Peeps!

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *