Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Kekerasan dalam rumah tangga kerap dianggap sebagai masalah dua insan dalam hubungan pernikahan. Jangankan mengintervensi, sekedar mengkonfirmasi pada pihak-pihak terkait saja kadang kita yang berdiri di luar ini enggan. Ini masalah dua orang dewasa, gumam kita.

Dinamika KDRT tidak hanya berefek negatif pada korban dan pelaku, namun juga orang-orang terdekat. Ekspektasi umum terhadap end game KDRT biasa sebatas antara pasangan rujuk, pasangan bercerai, pelaku berakhir di balik jeruji besi, atau korban yang terbaring di rumah sakit atau pemakaman. Padahal, berakhirnya KDRT tidak se”rapi” itu, apalagi jika melibatkan anak sebagai saksi.

Komisi Nasional Perempuan mencatat bahwa di tahun 2019, permasalahan KDRT menduduki peringkat paling atas pada daftar kasus kekerasan pribadi yang paling sering dilaporkan. Yang tak kalah meresahkan tapi tampaknya sering luput dari perhatian adalah efeknya pada anak. 

Tindak tanduk dan pola pikir anak adalah cermin dari apa yang mereka saksikan dari perilaku dan interaksi orang tuanya. Ya, orang tua adalah sekolah pertama bagi sang anak. Jika yang tersedia hanya kamus kekerasan, maka jangan heran jika anak membentuk jati diri dari responnya terhadap suara tangis, suara keras perkelahian, mimik emosi pada setiap wajah, dan aksi kekerasan.

Meski tidak menjadi korban secara aktif, si anak juga terdera “luka” yang bisa jadi terbawa sampai dewasa dan mengacaukan perkembangan anak baik secara fisik maupun secara psikis. 

Berikut beberapa efek yang ditimbulkan ke anak sebagai saksi dari KDRT:

  • Victim Mentality

Anak yang melihat aksi kekerasan yang terus terulang berisiko membentuk pemikiran bahwa korban akan selalu menjadi korban. Dirinya yang turut terjebak di dalam arus kekerasan itu pun ikut menginternalisasi diri sebagai korban yang tidak berdaya.

  •  Rendahnya kepercayaan diri 

Kesulitan bersosialisasi, ketidakmampuan mencapai potensi diri merupakan efek domino dari kepercayaan diri yang rendah. Hal ini terlebih akan muncul ketika anak menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab pertengkaran antara orang tua.

  •  Menjadi pelaku kekerasan

Anak yang menjadi saksi KDRT yang berulang dapat tumbuh menjadi pelaku di masa depan karena interaksi dan komunikasi yang ia saksikan di rumah sarat unsur kekerasan dan dianggap sebagai respon lazim terhadap konflik.

  •  Mengalami trauma

Trauma menjalin hubungan, trauma dalam komunikasi terbuka, bahkan trauma terhadap interaksi antar gender adalah beberapa jenis trauma yang bisa muncul dari seringnya anak menjadi saksi KDRT.

  • Pembelajaran anak terganggu

Suasana tidak nyaman di rumah dapat menghambat konsentrasi atau fokus sehingga berkurangnya kemampuan anak menyerap informasi atau pembelajaran.

  • Timbul kebiasaan buruk

Kebiasaan ini dapat berupa mengkonsumsi obat terlarang, self-harm, atau ketergantungan alkohol sebagai bentuk pertahanan diri sebagai pengalihan sementara atas tekanan batin dan memori buruk.

Jejak pahit KDRT tidak berhenti di korban dan pelaku. Aksi kekerasan yang entah berbasis ego atau kepentingan lain itu justru besar pengaruhnya pada tumbuh kembang sang anak, bahkan jika ia tidak dilibatkan langsung.

Jika tidak ada kesadaran serius atau intervensi dari pihak keluarga atau pihak luar, kita sama saja menumbalkan si anak untuk tetap terjebak dalam lingkar setan derita KDRT yang mengikutinya hingga dewasa.

Penulis artikel: Adira Shifana P. dan M. Wildan Habiburohman

Sumber gambar: Freepik

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *