Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Air menjadi salah satu kebutuhan utama manusia yang dapat menunjang kehidupan. Sebagai suatu unsur yang krusial, air menjadi penentu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Manusia bisa bertahan walau tidak makan, tapi tidak dengan minum. Dehidrasi bisa membuat manusia menjadi lemah hingga meregang nyawa. Tidak hanya untuk dikonsumsi, air juga diperlukan untuk kebutuhan membersihkan tubuh. Dan menjaga kebersihan tubuh pun bagian dari menjaga kesehatan. 

Sayangnya, tidak semua orang dapat menikmati air bersih yang layak konsumsi secara merata. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 yang dikutip dari Clapeyron Media, masih ada sebanyak 26% penduduk Indonesia yang tidak memiliki akses air bersih.

Memetik data BPS lainnya mengenai populasi penduduk yang memiliki akses layanan sanitasi pada tahun 2019, ternyata Papua memiliki persentase terendah sebesar 38,27%. Hal ini masih menjadi ancaman mengingat krisis air yang melanda di Jayapura dan di beberapa kabupaten di Nusa Tenggara Timur.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise pernah menyampaikan di Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-34, bahwa perempuan dan anak akan lebih menderita dibanding pria ketika mereka kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Kedekatan Perempuan dengan Air Bersih

Perempuan sangat membutuhkan air karena pekerjaan sehari-hari identik dengan air misalnya memasak, mandi, mencuci baju dan pekerjaan rumah serta memandikan anak-anak. Namun, bagi seorang perempuan, kualitas air memegang peran penting apalagi ketika berurusan dengan fungsi tubuh. 

Selama masa menstruasi, perempuan membutuhkan lebih banyak air bersih untuk membasuh area genital serta membersihkan pembalut, terlebih jika mereka masih menggunakan pembalut kain atau tinggal di daerah yang belum menjual pembalut sekali pakai. Kebutuhan mereka terhadap air bersih tidak hanya untuk membasuh diri, tetapi juga untuk mencuci pembalut yang akan digunakan lagi. 

Dengan segala keterbatasan untuk mengakses air bersih yang kerap ditambah minimnya edukasi tentang menstruasi, tidak menutup kemungkinan mereka terpaksa memakai ulang pembalut yang masih kotor. Selain tidak nyaman, mereka pun dihadapkan dengan risiko infeksi atau bahkan gangguan kesehatan yang lebih parah.

Krisis air bersih dan sanitasi juga menyulitkan anak-anak perempuan usia sekolah. Di beberapa daerah banyak ditemui sekolah-sekolah yang minim fasilitas sanitasi dan toiletnya, atau bahkan tidak memilikinya sama sekali. Kondisi yang memprihatinkan ini dapat membuat anak-anak enggan pergi bersekolah jika sedang menstruasi karena khawatir terbentur kebutuhan sanitasi.

Kebutuhan air bersih bagi perempuan tak hanya soal akses, namun juga kualitas air. Krisis air bersih dan sanitasi menjadi salah satu penyebab terbesar kematian perempuan, lebih tepatnya sebanyak 800,000 jiwa setiap tahunnya. Sangat disayangkan betapa banyaknya jiwa yang hilang dan kualitas hidup yang terusik hanya karena mereka tidak mendapat akses air bersih dan sanitasi yang layak.

Penulis: Firza Aliya A.

Sumber gambar: Flickr

Share:

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *