Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Menjadi perempuan itu nggak mudah. Coba saja ajak bicara setiap perempuan; mereka pasti mengamini pernyataan itu.

Selain tantangan menavigasi tubuh dan pikiran sendiri, ada banyak tekanan dari keluarga, relasi, hingga masyarakat yang menginvasi kehidupan perempuan itu sendiri. Belum lagi, kejadian yang kerap mengancam kesehatan dan keselamatannya di tengah masyarakat.

Di sisi lain, status dan martabat perempuan sejak beberapa dekade terakhir kesannya sedang di puncak-puncaknya perayaan. Kita pernah punya presiden perempuan, beberapa menteri kabinet yang populer adalah perempuan, girl boss pemimpin perusahaan semakin banyak, gerakan feminisme di kota-kota besar juga kian jadi perbincangan, dan banyak lagi, deh, indikasi bahwa perempuan kian berlari kencang dan membanggakan sejak zaman Kartini.

Meski begitu, berlimpah juga indikasi bahwa tidak banyak yang berubah sejak zaman itu. Pernah mendengar bahwa perempuan adalah “second sex”? Ya, pandangan ini adalah salah satu contoh ketidakadilan gender terhadap perempuan yang memicu ke sikap intoleran atau merendahkan.

Ketidakadilan gender itu sendiri adalah pembatasan peran, pemikiran, atau perbedaan perilaku yang berdampak pada sesuatu yang merugikan hingga melanggar hak individu. Mau tinggal di kota besar atau desa kecil, mungkin kamu sendiri pernah mengalami salah satunya:

Subordinasi: Kondisi di mana masyarakat menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dari laki-laki, contoh: seorang ibu tidak diberi kesempatan untuk ikut andil dalam mengambil keputusan dan menyalurkan pendapat.

Stereotip gender: Pandangan atau asumsi yang berujung pada hal negatif, contoh: pendapat bahwa perempuan hanya berdandan untuk menarik perhatian lawan jenis, perempuan kurang cocok jadi pemimpin karena dianggap terlalu emosional.

Beban ganda: Tanggung jawab atau beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin tertentu, contoh: perempuan yang harus mengurus rumah tangga, memastikan suami dan anak dalam keadaan baik, melahirkan dan menyusui, atau dapat dikatakan bahwa perempuan memiliki beban kerja majemuk namun sering tidak dihargai dan tidak dianggap.

Marginalisasi: Pemiskinan, peminggiran, atau tidak adanya kesempatan atau akses yang sama terhadap jenis kelamin tertentu, contoh: perempuan dianggap menjadi makhluk domestik dan diarahkan untuk menjadi ibu rumah tangga. Hal ini menutup ruang bergerak untuk perempuan dapat berkontribusi di tengah masyarakat.

Kekerasan: Adanya bentuk perilaku kasar, verbal maupun non-verbal dengan bertujuan untuk mendominasi, mengintimidasi, atau ingin dianggap lebih kuat, contoh: perempuan yang dianggap lemah dan pasrah sehingga menjadi objek seksual atau dikenal dengan istilah gender-based violence.

Di luar gesekan-gesekan “umum” yang kita alami sebagai perempuan ini, masih banyak lagi isu-isu meresahkan yang menimpa saudari-saudari kita. Dari pernikahan anak usia dini, human trafficking, perbudakan modern, mutilasi alat kelamin, hingga krisis air bersih.

Giat usaha perempuan untuk menantang status quo melalui gerakan feminisme saja juga menimbulkan keruwetan sendiri. Dikutip dari (Hannam, 2007), definisi feminisme adalah pengakuan akan ketidakseimbangan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki, ketika perempuan dengan sengaja ditempatkan dalam peran yang lebih rendah dari laki-laki. Dan inti dari paham feminisme itu sendiri adalah untuk menyoroti akan “kebebasan”, “kemandirian” serta emansipasi atau kesetaraan perempuan dengan laki-laki di segala aspek seperti politik, sosial, dan ekonomi (Martin, 1916).

Namun, pemahaman ini malah menimbulkan konflik dan kontroversi. Mungkin kamu juga sering dengar bahwa feminisme adalah komunitas yang membenci laki-laki, padahal, kasus-kasus yang dibawa jauh lebih penting dan urgent dari sekadar membahas siapa membenci siapa dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan kebencian gender tertentu itu sendiri.

Dengan pelbagai usaha dari luar—dan kadang dari dalam diri sendiri—untuk menekan keberadaan dan mengecilkan suara perempuan, rasanya mungkin sulit untuk bersyukur dan bangga sebagai perempuan.

Ah, tapi jika kita tarik mundur lagi, perempuan sebetulnya justru adalah sosok yang begitu kuat. Perempuan begitu indah dan unik, bertahan di tengah tatanan masyarakat yang sarat budaya patriarki. Meski diterpa tantangan-tantangan dari dulu, hingga sekarang dan nanti, pasti akan terus ada perempuan yang menegakkan langkah, bersuara atas ketidakadilan, dan mencari titik terang. Progress mungkin tidak secepat yang diharapkan, namun bukan berarti tidak ada—dan tiap hari, setiap perempuan pasti berjuang membentuk makna hidup dan mendorong batasan-batasan dengan cara mereka masing-masing.

Artikel ini adalah sebagai bentuk penulis merayakan hidup di tengah tantangan sebagai perempuan. Mulailah peluk dirimu dan banggalah menjadi perempuan—kita adalah jiwa-jiwa yang hebat.

Penulis: Febriana Sari Lubis

Sumber gambar: Freepik

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *