Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Menghormati seseorang yang lebih tua sudah menjadi suatu tata krama dalam budaya kita. Bagaimanapun orang yang terlahir lebih dulu dari kita sudah melalui banyak hal sulit serta ,emiliki lebih banyak pengalaman. Tidak salah jika kita berguru kepada orang yang usianya di atas kita. Namun bagaimana jika situasi antara yang muda dan tua ini disalahgunakan?

Perjalanan An Jun-ho dalam drama D.P dapat menjawab pertanyaan kita. Drama yang terdiri dari 6 episode ini menceritakan bagaimana Jun-ho (Jung Hae In) dan rekannya bekerja sama untuk menangkap tentara wajib militer yang desersi atau membelot dari tugasnya. Serial ini sudah tayang sejak 27 Agustus 2021 dan dapat dinikmati di platform streaming Netflix.

Cerita dimulai dari masuknya Jun-ho ke dalam program wajib militer di Korea Selatan. Laki-laki dari rentang usia 18 – 28 tahun di Korea Selatan wajib untuk mengikuti program militer selama dua tahun untuk kepentingan pertahanan negara. Drama ini diadaptasi dari seri Webtoon dengan judul D.P: Dog Days yang ditulis oleh Kim Bo-Tong berdasarkan pengalaman pribadinya ketika mengikuti program wajib militer.

Pada episode pertama, penonton sudah disuguhkan dengan betapa sulitnya Jun-ho menjalani pelatihan intensif dalam militer. Tidak luput dengan kentalnya senioritas yang terjadi di dalam kamp pelatihan. Menurut KBBI senioritas adalah prioritas status atau tingkatan yang diperoleh dari umur atau lamanya bekerja.

Dalam kesehariannya di kamp pelatihan, Jun-ho diharuskan untuk selalu menuruti perintah seniornya. Ia dan rekan-rekannya diharuskan untuk selalu menjawab salam dengan tegas dan tidak boleh sedikitpun mengumpat kepada seniornya, jika hal itu tidak dilakukan akan ada akibatnya.

Akibat yang diterima para anggota pun tidak tanggung-tanggung, mereka bisa dipukuli, dipermalukan, dan dilecehkan. Jun-ho hampir saja dilecehkan oleh seniornya ketika ia menghindari paku yang bisa melukai kepalanya ketika didorong oleh seniornya. Hal ini membuat sang senior marah dan memukulnya. Selain itu, Jun-ho juga dipermalukan secara verbal. Ketika surat dari sang ibu dibacakan oleh seniornya, mereka menyebutkan bahwa ibu Jun-ho adalah seorang gelandangan di hadapan rekan-rekannya.

Senioritas ini terjadi bukan tanpa alasan. Di hari pertama pelatihan, seorang senior menganggap bahwa anggota baru bukanlah siapa-siapa, mereka bukan rakyat ataupun seorang tentara. Senior membedakan diri mereka dengan perbedaan status, di sinilah terjadi senioritas.

Sesuai dengan makna senioritas itu sendiri, para senior merasa paling berkuasa karena mereka datang lebih awal dan memiliki pengalaman lebih banyak daripada anggota baru. Sayangnya, status ini disalahgunakan sehingga terjadi bullying terhadap anggota baru.

Perbedaan status ini membuat para senior merasa perlu untuk dihormati. Para senior merasa bahwa diri mereka sudah menjadi seorang tentara yang mengabdi. Tentunya dengan membanggakan pengalaman dan kinerja mereka di program wajib militer. Bagi mereka, anggota baru tidak mengetahui apapun tentang apa yang sudah mereka lalui selama berada di militer dan merasa lebih tangguh.

Akibat dari adanya senioritas ini mulai terkuak ketika An Jun-ho memulai perannya sebagai polisi militer. Jun-ho dan rekannya kopral Han Ho-yul (Koo Kyo-hwan) membongkar alasan para tentara yang melarikan diri dari kewajiban mereka.

Kisah mengenaskan terjadi pada seorang tentara bernama Shin Woo-suk. Pada tugas pertamanya sebagai DP atau deserter pursuit, Jun-ho dan rekan sementaranya Park Sung-woo, gagal membawa kembali tentara Woo-suk ke kamp pelatihan. Woo-suk ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri di tempat singgahnya.

Setelah ditelusuri, Woo-suk mengalami bullying selama di kamp pelatihan. Karena tidak kuat menerima tekanan tersebut, Woo-suk memutuskan untuk kabur dari wajib militer. Setelah keluar dari militer, ia bekerja sebagai seorang pelayan di hostess bar. Pekerjaannya menjadi pelayan pun tidak berjalan mulus. Ia juga kerap menerima tekanan serupa, sehingga Woo-suk memilih untuk mengakhiri hidupnya sebelum ia ditemukan oleh DP dan dibawa kembali ke kamp pelatihan.

Dari sinilah Jun-ho menyadari betapa buruknya perlakuan senior terhadap para anggota baru. Perilaku tersebut mengikis mental para anggota hingga mereka memutuskan untuk melarikan diri. Bahkan setelah melarikan diri pun mereka tetap menderita karena mereka tidak bisa menggunakan kartu tanda penduduk mereka. Mereka menjadi sulit untuk mendapat pekerjaan karena statusnya masih dalam wajib militer. Mereka juga tidak bisa kembali ke rumah mereka karena tentara DP dapat dengan mudah menemukan mereka.

Dalam kasus Shin Woo-suk, kita dapat melihat bahwa dampak bullying akibat senioritas berjangka panjang. Akibat tidak bisa memulihkan keadaan mental dan kurangnya support system, Woo-suk mengalami putus asa hingga berakhir bunuh diri.

Senioritas masih terjadi hingga detik ini dan dapat terjadi di manapun, baik di lingkungan sekolah, perguruan tinggi, maupun lingkungan pekerjaan. Senioritas kerap dianggap negatif karena selalu disertai dengan aksi bullying.

Sebagai seorang senior, memiliki rasa ingin dihormati tidaklah salah. Namun, melakukan kekerasan demi mendapatkan kehormatan merupakan kesalahan fatal. Tanpa melakukan kekerasan, kita dapat memperoleh rasa hormat dari siapapun. Memberi contoh yang santun kepada orang lain, sehingga orang lain mencontoh kita, lebih terhormat daripada memaksakan kehendak untuk merasa dihormati.

Penulis: Annisa

Sumber Gambar: mydramalist.com

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *