Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Apakah kamu sudah cukup jadi perempuan baik-baik? Pertanyaan ini mungkin cukup membuat kamu berpikir. Apakah kamu sudah cukup berperilaku manis, lemah lembut, diam tanpa kata, banyak mendengar, tidak merokok, tidak bertato, pulang tepat waktu, atau jarang keluar rumah? Kalau kamu tidak memenuhi satu poin yang telah disebutkan tadi, kamu bukan perempuan baik-baik—setidaknya menurut masyarakat pada umumnya.

Contoh lainnya yang paling dekat dengan kita, mungkin ketika pulang larut malam atau bergaya pakaian tertentu langsung dinasihati “Kamu itu perempuan.. Namun, tak hanya perilaku tertentu saja yang menuai kritik bagi perempuan; sekedar berseberangan dengan suara mainstream saja sudah dipandang tidak layak.

Pada debat calon presiden Amerika Serikat 2016, Donald Trump menyebut Hillary Clinton sebagai perempuan yang tidak baik. Berawal dari Clinton yang menjawab pertanyaan tentang pajak dan sempat mengkritik Trump di jawabannya tersebut. Trump pun menyela Clinton dengan menyebutnya, “such a nasty woman”. Hanya karena kritikan pada debat, yang seharusnya normal untuk saling mengkritik, Trump menyebut Clinton dengan sebutan nasty woman.

Contoh lainnya, tahun lalu, anggota kongres perempuan AS, Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) menerima komentar yang merendahkan dari anggota kongres Ted Yoho. Yoho menyebut AOC dengan kata kasar, “f***ing b***h”, di depan publik. Sebutan ini terlontar karena Yoho bersilang pendapat dengan AOC tentang pandemi Covid-19. Dari seruan kasar ini, pandangan Ted Yoho terhadap AOC sepertinya cukup jelas: ia perempuan tidak baik—dan layak dilabeli seperti itu—hanya karena suatu perdebatan atau kritikan. 

Tindakan di atas adalah beberapa dari sekian banyak perempuan dianggap ‘liar’, ‘jahat’, ‘tak elok’ ketika berperilaku tidak sesuai definisi perempuan. Perempuan harus jadi “baik-baik” untuk memenuhi definisi perempuan yang sesungguhnya di mata masyarakat. Tapi “perempuan baik-baik” itu seperti apa sih, emangnya?

Asal label perempuan baik-baik

Melalui buku Pengantar Gender dan Feminisme karya Alfian Rokhmansyah, feminin adalah sebuah sifat yang erat dikaitkan oleh figur perempuan, yang sebenarnya adalah konstruksi budaya. Perempuan seharusnya memiliki sifat halus, penyabar, penyayang, emosional, pasif, lemah lembut dan lain sebagainya. Sedangkan maskulin erat dengan figur laki-laki yang kuat, perkasa, kasar, rasional, agresif, mandiri, dan sifat lainnya. 

Berangkat dari pengotak-ngotakan sifat feminin dan maskulin, muncul istilah “perempuan baik-baik”. Jika perempuan tidak memenuhi sifat-sifat yang dinilai feminin atau berperilaku maskulin, maka label perempuan tidak baik-baik akan mengikutinya. Hanya karena satu kesalahan atau , label “perempuan tidak baik-baik” langsung melekat dan merusak reputasi perempuan tersebut.

Misalnya saja, kasus Gisella Anastasia beberapa waktu lalu. Berapa banyak netizen yang mengomentari akun Instagramnya dengan perkataan yang kurang enak dibaca. Bahkan media pun terkesan hanya memberikan spotlight kepada perempuannya bukan laki-laki yang turut ada di video tersebut. Tanpa membenarkan apa yang ia lakukan di masa lalu, kenapa netizen malah lebih mengomentari Gisella daripada si laki-laki, seakan lupa bahwa insiden ini ditanggung masing-masing.

Produk dari double-standard

Tanpa disadari label “perempuan baik-baik” adalah produk dari double-standard yang dialami perempuan. Ada perempuan yang merokok, langsung dilihat sebelah mata oleh masyarakat. Tapi kalau laki-laki yang merokok, sepertinya itu sudah jadi hal biasa. Ada perempuan yang angkat suara, langsung diperbincangkan karena menurut budaya yang ada perempuan seharusnya pasif. Tapi, respon akan berbeda ketika laki-laki yang angkat suara.

Mungkin daripada menjadi perempuan baik-baik, menjadi manusia baik-baik lebih masuk akal. Toh, apa yang dideskripsikan sebagai “perempuan tidak baik-baik”, belum tentu merugikan atau menyakiti orang lain. Merokok tidak akan merugikan orang lain, selama ia merokok di tempat seharusnya. Bertato tidak akan merugikan tubuh orang lain juga. Vokal atau keras menyatakan pendapat tidak akan merugikan orang lain, selama dilakukan dengan cara yang benar. 

Untuk perempuan diluar sana yang kerap dilabeli “perempuan tidak baik-baik”, you don’t have to be a good woman, you just have to be a good human-being. 

Penulis: Greta Theresia

Sumber gambar: Freepik

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *