Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Apa yang ada di benak kalian saat melihat seorang perempuan merokok? Perempuan tidak benar? Perempuan tak tahu tata krama? Atau perempuan nakal? Pemikiran-pemikiran tersebut dilahirkan dari konstruksi sosial—bahwa perempuan selalu diharapkan sebagai sosok yang feminin dan  opresif. Lalu sebenarnya, aktivitas merokok atau ngudud hanya boleh dilakukan laki-laki saja?

Eits, tunggu dulu. Sebelumnya nih, perempuan justru malah diidentikan dengan aktivitas ngudud, lho. Kok bisa? Mungkin kalian pernah mendengar nama aktris sekaligus model cantik bernama Lia Waroka. Aktris yang namanya melejit di tahun 1980-an ini rupanya pernah membintangi iklan Rokok Surya 12. Perempuan selalu dilekatkan sebagai peran pendukung di sebuah iklan rokok, namun pada waktu tersebut perempuan justru digambarkan sangat maskulin. Lia Waroka juga berpose macho dengan menyelipkan sebuah rokok di jari telunjuk dan tengahnya

Tak hanya Lia Waroka saja, banyak sekali produsen rokok menjadikan perempuan sebagai bintang utama di dalam iklannya. Bahkan Gudang garam juga pernah mengeluarkan iklan yang menunjukkan perempuan merokok bersama teman laki-laki lainnya. Dari waktu ke waktu, citra perempuan semakin bergeser—mereka bukan menjadi bintang, melainkan laki-laki yang ditonjolkan.

Perempuan tetap hadir di dalam sebuah iklan rokok, hanya saja menjadi peran pendukung. Kini, masyarakat luas meyakini bahwa rokok hanya boleh dilakukan oleh laki-laki. Ada banyak mitos yang melekat saat laki-laki mulai ngudud atau sebatseperti nilai maskulinitas. Tak dapat dipungkiri lagi, bahwa gempuran media juga membentuk pola pikir masyarakat soal pandangan perempuan merokok.

Yang jelas, kosntruksi sosial memang berubah-ubah setiap waktu. Pada tahun 1980-an, perempuan merokok dipandang sah-sah saja namun pandnagan tersebut mulai bergeser sebagai stereotip khusus. Bahwa hanya laki-laki yang boleh ngudud. Toh, aktivitas tersebut sebenarnya tidak ada korelasi gender. Bahkan, kelompok transpuan juga banyak kok yang merokok, lantas mengubah mereka menjadi laki-laki kembali? Ya tentu tidak, karena yang melekatkan mitos-mitos maskulinitas di rokok ya masyarakat. Kapitalis mah ngga peduli yang merokok mau laki-laki, perempuan, queer, atau kelompok minoritas lainnya. Kita sama saja di mata kapitalis~

Sudah ya, mau ngudud dulu nih~

Penulis artikel : Yosua Pirera

Sumber gambar : Freepik https://image.freepik.com/free-photo/selective-closeup-shot-female-lighting-up-cigarette-with-lighter_181624-17164.jpg  (NB : untuk keperluan dekoratif)

Share:

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *