Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Sudah lebih dari setahun lamanya kita terjebak dalam kebiasaan yang benar-benar baru karena adanya pandemi, sekolah yang dulunya menjadi tempat belajar dan bermain bersama teman, kini sepi dan canda tawa hanya dapat dibagi melalui platform online, tempat wisata yang hiruk pikuk akan wisatawan kini senyap dan menjadi momok bagi sebagian orang—takut jika tertular virus yang berbahaya itu—Covid-19. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah penularan virus yang begitu cepat, mulai dari pembatasan ruang gerak warga berskala besar hingga dilonggarkan ke skala yang lebih kecil, melarang warganya untuk berkumpul dan berkunjung jika dirasa tidak begitu penting, dan lain sebagainya. Lapisan masyarakat pun ikut berperan aktif dengan menerapkan pola hidup sehat dan mengikuti protokol kesehatan yang ada.

Di awal kemunculan Covid-19, banyak yang mengira bahwa pandemi ini tidak akan berlangsung lama, dan berharap bahwa vaksin akan segera ditemukan agar kegiatan warga dapat kembali normal seperti sedia kala. Selang beberapa bulan setelah munculnya wabah ini, harapan baru mulai hadir dengan adanya vaksin yang diklaim dapat membantu mencegah penyebaran Covid-19. 

Sebenarnya, apa sih vaksin dan apa hubungannya dengan pandemi? Vaksin adalah zat yang sengaja dibuat untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh dari penyakit tertentu, sehingga bisa mencegah terjangkit dari penyakit tertentu tersebut (covid19.go.id). Menurut World Health Organization (WHO), vaksin mengandung antigen yang sama dengan antigen yang menyebabkan penyakit. Namun antigen yang ada di dalam vaksin tersebut sudah dikendalikan (dilemahkan) sehingga pemberian vaksin tidak menyebabkan orang menderita penyakit seperti jika orang tersebut terpapar dengan antigen yang sama secara alamiah.

Lantas, apakah perlu untuk melakukan vaksinasi? Vaksinasi merupakan proses pemberian vaksin ke dalam tubuh. Jika seseorang telah mendapat vaksin untuk suatu penyakit, maka tubuhnya dapat membentuk antibodi untuk melawan virus tersebut ketika suatu saat nanti terpapar. Jadi, vaksinasi penting untuk dilakukan agar dapat membentuk perlindungan diri terhadap penyakit, bukan hanya diri sendiri tetapi juga orang di sekitarmu.  

Lah, kenapa harus vaksin? Toh orang di zaman dahulu tidak diberi vaksin namun daya tahan tubuhnya tetap kuat. Pasti kamu pernah mendengar argumen semacam ini kan? Argumen demikian disebut survivorship bias atau bias kebertahanan, di mana suatu data atau pernyataan hanya menghitung kasus selamat dan kasus gagal tidak diperhitungkan. Orang zaman dahulu belum tentu kebal karena tidak divaksin, tetapi mereka hanya beruntung karena memliki daya tahan tubuh yang lebih baik dan lolos dari seleksi alam. Justru dengan adanya vaksin, diharapkan angka kasus positif dan kematian akibat Covid-19 akan menurun, serta terbentuknya herd immunity. Herd immunity atau kekebalan kelompok adalah kondisi ketika sebagian besar orang dalam suatu kelompok sudah memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit, apabila semakin banyak orang yang kebal, maka semakin sulit pula penyakit tersebut menyebar. Dengan adanya herd immunity yang terbentuk karena vaksinasi Covid-19, diharapkan orang yang tidak bisa menerima vaksin bisa terlindungi juga dari penyakit ini.

Vaksin yang tersebar sekarang tentunya juga telah melalui tahapan pengujian intensif untuk menjaga keamanan dan keefektifannya. Bicara mengenai keefektifan vaksin, pasti akan berkaitan dengan efikasi vaksin. Efikasi dan efektivitas sebenarnya berbeda, efektivitas vaksin merupakan ukuran seberapa baik vaksin dapat bekerja ketika diberikan pada masyarakat atau orang di luar tahapan uji klinis. Sedangkan efikasi vaksin merupakan persentase atau kemampuan vaksin mengurangi gejala penyakit pada orang yang diberi vaksin dalam uji klinis. Nah, untuk vaksin yang tersebar sekarang memiliki efikasi yang berbeda-beda tergantung wilayahnya lho! Faktor penyebabnya antara lain karakteristik subjek uji, tingkat penularan penyakit, dan kondisi kesehatan sukarelawan yang diuji. 

Adapun vaksin yang tersebar di Indonesia terdapat 7 jenis yang berbeda. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/ Menkes/12758/2020 menetapkan vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia antara lain vaksin yang diproduksi oleh PT Bio Farma, Moderna, Novavax, Sinovac, Pfizer-BioNTech, AstraZeneca, dan Sinopharm. Perbedaan pada ketujuh jenis vaksin ini terdapat pada proses produksinya, cara kerja vaksin, hingga efek samping yang ditimbulkan. Namun tujuan dari semua jenis vaksin ini tentunya untuk dapat mencegah penyebaran virus Covid-19.

Kabar baik bagi masyarakar Indonesia, vaksin Covid-19 ini dapat diperoleh secara gratis tanpa persyaratan apapun, lho! Kamu hanya perlu mendatangi fasilitas kesehatan atau mengisi data diri di situs web atau aplikasi yang telah ditentukan. Fakta bahwa begitu banyak jenis vaksin Covid-19 ditemukan dalam waktu yang cukup singat merupakan titik terang dalam sejarah kehidupan manusia, semua ini tidak terlepas dari peran nakes, peneliti, dan scientist yang bekerja tanpa henti. Sekarang, giliran kita untuk mengambil peran demi menyudahi pandemi ini agar kegiatan sosial dan ekonomi kembali pulih. Bagi kamu yang sudah divaksin, jangan lupa untuk tetap mematuhi protokol kesehatan ya!

Penulis: Nadya Syahrita Maghfirah

Sumber Gambar: Freepik

Share:

1 Comment

  • Novelinda, July 18, 2021 @ 3:38 pm Reply

    Wah keren. Sangat menarik.
    Terimakasih atas informasinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *