Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Standar kecantikan atau ekspektasi toxic?

Beberapa waktu lalu, tepatnya 9 Desember 2020, ada postingan menarik di Instagram yang jadi perbincangan hangat. Pasangan suami-istri, Ernest Prakasa dan Meira Anastasia, sama-sama mengunggah komentar-komentar netizen yang dikirimkan ke direct massage Ernest.

Salah satu komentar netizen tersebut berbunyi: “Ko @ernestprakasa gak niat poligami?”, “Jeleek istrinyaaa, cerein aja terus sama aku #eh”. Tidak sampai di situ, selang beberapa hari kemudian, Meira juga mengunggah direct messagenyadari seorangnetizen untuk dirinya. Yang mana isi pesannya adalah meminta Meira untuk mengubah penampilannya. Meira yang berambut pendek juga diminta untuk memanjangkan rambutnya. Meira yang senang ke pantai diminta untuk tidak ke pantai dulu supaya putih. Menurut netizen, jika Meira melakukan apa yang disarankan barulah berarti ia benar-benar merawat dirinya.

Apa yang disebutkan oleh netizen di atas adalah standar kecantikan yang diekspektasikan orang-orang terhadap perempuan. Orang-orang memiliki ekspektasi bahwa perempuan cantik atau pintar merawat diri seharusnya yang berambut panjang, berkulit putih, wajah tanpa noda setitik pun, dan bertubuh kurus. Sebenarnya apa yang menyebabkan standar kecantikan perempuan harus seperti itu?

Kekuatan media

Ketika menonton TV, kita akan melihat perempuan bertubuh langsing dan putih sedang membawakan sebuah acara. Ketika memegang smartphone dan lebih lanjut, scrolling di Instagram pun, yang terpampang adalah para selebgram yang berkulit putih, bertubuh jenjang. Kiri dan kanan kita dijejali perempuan-perempuan yang ‘seragam’: bertubuh langsing, putih, dan memiliki fitur simetris, seakan hanya mereka yang punya tipe tampilan tertentu yang dapat muncul di media.

Ada sebuah teori komunikasi massa — teori Jarum Hipodermik — yang menyebut bahwa media massa itu nyata memiliki kekuatan untuk mempengaruhi apa yang dilihat dan didengar khalayak ramai. Dari sini, kesadaran masyarakat dibentuk dan diturunkan ke generasi-generasi selanjutnya, sampai menjadi stereotip atau bahkan sebuah budaya. 

Media massa dan media sosial saat ini sepertinya telah “mencuci otak” audiens tentang apa yang mereka yakini sebagai sebuah standar kecantikan. Dalam benak mereka, keyakinan bahwa perempuan yang ideal sudah terpatri sehingga ketika mereka menemukan adanya ketidaksesuaian dengan perspektifnya, maka sontak dianggap sebagai sebuah anomali. Jika seorang perempuan tidak langsing, tidak putih, dan fiturnya tidak simetris, maka ia dianggap tidak cantik.

Cantik itu mitos

Standar kecantikan yang dibuat media itu toxic, sebab sifatnya menjerat. Standar-standar ini memaksa perempuan yang tidak bisa atau tidak ingin memenuhi standar tersebut untuk tunduk karena dianggap sebagai kebenaran umum, seperti matahari mesti terbit dari timur dan tenggelam dari barat.

Meski jeratan ini seolah membuat mereka stress, tidak percaya diri, ruang gerak jadi terbatas, sulit mengekspresikan diri, atau bisa menjadi depresi, tapi dorongan untuk diterima publik jauh lebih besar.

Meski sebenarnya sulit untuk mengikuti setiap tren kecantikan yang pasti berubah-ubah setiap waktunya, dari tubuh curvy bak Kylie Jenner hingga kulit putih seperti idol Korea, akan selalu diupayakan semaksimal mungkin.

Padahal, standar kecantikan yang dibangun melalui media juga tidak jauh dari kepentingan bisnis, khususnya para pengusaha yang bergelut di bidang kecantikan. Dengan merangkai batas-batas standar kecantikan, membesarkan krisis kepercayaan diri, dan menjual kecemasan terhadap tampilan perempuan, dunia bisnis kecantikan pun meraup keuntungan. 

Kembali ke persoalan Ernest & Meira. Komentar-komentar netizen juga mengesankan bahwa seorang laki-laki dengan tampilan menarik yang konvensional seperti Ernest seharusnya bersanding dengan perempuan yang good looking juga, mengandaikan bahwa kesempurnaan hubungan terletak pada tampilan. Padahal ada faktor lain yang bisa jadi lebih penting dalam kelanggengan hubungan, seperti kompatibilitas nilai hidup dan kepribadian.

Jadi, buat apa terpaku pada standar kecantikan yang semu? Jangan mau jadi korban dunia kecantikan dan stop mendiskreditkan citra perempuan yang tak sesuai dengan standar bikinan media.

Sebab, standar kecantikanmu adalah dirimu sendiri sebagaimana yang tampak di cermin dan standar kecantikannya adalah dirinya sendiri.

Penulis artikel: Greta Theresia N.

Sumber gambar: Freepik

Share:

10 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *