Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Kamu pernah menerima siulan ketika berjalan sendirian? Mungkin itu hal yang biasa terjadi pada siapapun. Meski dalam bentuk verbal, tapi itu termasuk ke dalam pelecehan.

Kalau dianalogikan, catcalling itu ibarat kucing-kucing nakal yang mengeong di jalan karena kelaparan. Catcalling terjadi ketika seseorang sedang berjalan di tempat umum dan tiba-tiba mendapat panggilan, siulan atau bentuk-bentuk lainnya.

Catcalling, sebagaimana mengutip dari Sehatq.com, merupakan komentar bernada seksual yang dilontarkan oleh laki-laki ke wanita di tempat umum. Selain dalam bentuk komentar atau kata-kata, catcalling juga dapat berupa siulan, lirikan, kedipan dan menyentuh area tubuh tertentu.

Beberapa orang mungkin merasa bentuk-bentuk tindakan catcalling ini hanya sebuah basa-basi untuk berkenalan dengan orang lain, sekadar berusaha ramah atau memberi pujian. Tapi sebenarnya enggak begitu. Catcalling umumnya bernada seksual atau merendahkan. Banyak orang yang pernah mendapat catcall merasa tidak nyaman, tidak percaya diri sampai trauma. Tidak menutup kemungkinan juga pelaku dapat melakukan kekerasan lain jika korban merasa tertekan. Sayang, masih banyak yang menganggap catcalling sebagai sesuatu yang wajar.

“Kok celananya robek-robek?”

“Bajunya ketat amat mba,”

“Udelnya keliatan tuh nanti masuk angin,” 

— Ucap ‘kucing-kucing’ di luar sana.

Catcalling juga sering dilakukan untuk mengomentari pakaian yang dikenakan orang lain. Komentar mengenai pakaian ini juga berujung pada pelecehan terhadap fisik seseorang. Padahal, sekalipun kita menyelimuti tubuh bak lemper, tetap saja ada kemungkinan menjadi korban catcalling. Ini bukan masalah baju ketat, baju longgar atau baju pendek, baju panjang. Ini adalah masalah bagaimana kita bisa menjaga bibir kita dari omongan-omongan kurang sopan dan bahkan bisa menyakiti perasaan orang lain.

Laki-laki tidak pernah mendapat catcall?

Salah besar. Pelecehan tidak pernah melihat gender, begitu juga dengan catcalling. Walaupun hal ini lebih sering terjadi pada perempuan, tapi tidak menutup kemungkinan kalau laki-laki juga bisa mengalaminya. Bisa jadi kita pernah melakukannya tanpa sengaja. Berniat untuk mengagumi seorang laki-laki, tetapi berujung membuat orang lain justru merasa tidak nyaman.

Memaafkan pelaku catcall (*syarat dan ketentuan berlaku)

Mendapat catcall dari orang yang good looking bukan berarti kamu bisa memakluminya ya. Apalagi orang tersebut asing bagimu, kamu tidak akan pernah tahu niatnya. Looks don’t define a person. Ketika kamu merasa bentuk catcall yang dilayangkan kepadamu sudah tidak pantas, itu tetaplah catcalling bukan lagi pujian ataupun usaha bersikap ramah, tidak peduli siapapun pelakunya atau bagaimana penampilan pelakunya.

Bagaimanapun juga, iya atau tidaknya sebuah tindakan dikatakan sebagai catcall tergantung kepada perasaan orang yang mengalaminya. Jika seseorang yang mendapat catcall merasa hal itu baik-baik saja dan tidak memberikannya perasaan tidak nyaman, maka kita tidak bisa memaksa untuk menyebut dirinya sebagai korban catcalling. Namun, meski satu orang tidak tersinggung, itu bukan berarti kamu, sebagai pelaku catcalling, bisa melakukan hal yang sama terhadap orang lain.

Kalau kamu mau mengapresiasi penampilan seseorang, jangan gunakan ‘piwit piwit’ sebagai jalan ninjamu, atau malah melemparkan komentar merendahkan. Ada cara lain yang lebih sopan dan berkelas, atau apresiasi saja dalam hati!

Penulis: Firza Aliya A.

Sumber gambar: Freepik

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *