Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

15 Agustus 2021 waktu setempat, Taliban berhasil memasuki ibu kota Afghanistan, Kabul dan menduduki istana kepresidenan. Keadaan semakin mencekam saat presiden Afghanistan, Ashraf Ghani kabur dan meninggalkan warganya dengan helikopter. Situasi Afghanistan memang penuh dengan konflik sejak dahulu.

Tahun 1979, Uni Soviet pernah menyerbu Afghanistan setelah terjadi perpecahan di Partai Komunis Afghanistan. Akibatnya, mereka khawatir apabila penguasa partai yang baru akan menjadi sekutu Amerika Serikat. Pada masa itu, banyak pemimpin Taliban yang bertempur melawan pendudukan Uni Soviet. Selama sekitar satu dekade Uni Soviet menduduki Afghanistan dan akhirnya menarik pasukannya.

Selepas perang dengan Uni Soviet, muncul kelompok-kelompok militan baru di Afghanistan hingga akhirnya Taliban berkuasa pada tahun 1996. Taliban sendiri terbentuk sejak tahun 1990-an  dan nama Taliban atau taleban diambil dari bahasa Pashtun atau Persia yang berarti pelajar atau murid. Pada mulanya, Taliban merupakan sebutan untuk santri yang kemudian berkembang menjadi faksi politik dan agama ultrakonservatif yang muncul di Afghanistan setelah penarikan pasukan Uni Soviet dari negara tersebut.

Medio 1996 – 2001, Taliban menguasai Afghanistan dan menerapkan hukuman sesuai dengan interpretasi ketat terhadap hukum syariah. Pemerintahan pertama Taliban penuh dengan kesengsaraan bagi warga negaranya, utamanya bagi perempuan. Pada rezim itu, banyak perempuan yang menjadi korban dan mengalami hukuman pemenggalan, rajam sampai meninggal, paksaan mengenakan burka, dan perempuan dilarang untuk bekerja dan memperoleh pendidikan. Hak-hak perempuan benar-benar dirampas dan perempuan dibayangi rasa ketakutan karena tidak dapat menjalani kehidupan yang normal. Praktik Taliban terdahulu amat patriarkis sehingga membuat perempuan terkekang.

Pemerintahan Taliban yang dikenal ekstrem mencapai puncaknya pada 11 September 2001, serangan teroris paling mematikan terjadi di AS di mana empat pesawat penumpang yang ditunggangi oleh teroris melakukan serangan bom bunuh diri dengan menabrakkan pesawat tersebut ke gedung World Trade Center. Tragedi tersebut menewaskan hampir 3.000 korban jiwa dan memicu kemarahan dunia, utamanya setelah AS mengidentifikasi bahwa serangan itu dilakukan di bawah perintah Osama bin Laden yang berada di bawah lindungan Taliban.

Presiden Amerika saat itu, George W. Bush mengultimatum Taliban untuk menyerahkan Bin Laden, hingga akhirnya negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) bergabung dengan AS dan membentuk pemerintahan baru di Afghanistan pada 2004. Dengan demikian, kekuasan Taliban digulingkan meskipun Taliban masih terus gigih melawan.

Kini, setelah tentara AS meninggalkan Afghanistan pada 2021, Taliban kembali menduduki negara tersebut setelah ‘dikeroyok’ oleh Amerika selama 20 tahun. Warganya seketika dihantui mimpi buruk akan seperti apa pemerintahan Taliban nantinya. Perempuan-perempuan Afghanistan memiliki kekhawatiran serius akan hal ini, mereka kini lebih banyak berdiam diri di rumah karena takut.

Hal ini menjadi sorotan bagi Peraih Nobel Perdamaian termuda, Malala Yousafzai. “Dalam dua dekade terakhir, jutaan perempuan Afghanistan menerima pendidikan. Sekarang masa depan itu hampir saja hilang. Taliban 20 tahun lalu melarang hampir semua anak perempuan dan perempuan bersekolah dan memberikan hukuman keras kepada mereka yang menentang Taliban — kini mereka kembali memegang kendali setelah kehilangan kekuasaan. Seperti banyak perempuan, saya takut akan nasib saudara perempuan saya di Afghanistan,” tulis Malala di essay yang dimuat di New York Times.

Pada 2012 lalu, Malala yang masih berumur 15 tahun pernah berurusan dengan Taliban saat pasukan Taliban menduduki kota kelahirannya. Ia ditembak oleh seorang pria Taliban bersenjata saat perjalanan pulang dari sekolah.

“Ketika saya berusia 15 tahun, Taliban mencoba membunuh saya karena berbicara tentang hak saya untuk pergi ke sekolah,”tulis Malala dalam essay-nya.Peluru bersarang di leher dan kepalanya dan hampir mengenai otaknya, bahkan Malala harus mengalami operasi berkali-kali. Malala sudah tidak asing dengan ancaman pembunuhan karena keberaniannya menyuarakan tindak kekerasan yang dilakukan oleh Taliban.

Taliban dikenal sebagai kelompok yang memiliki kebijakan keras terhadap perempuan dan anak-anak. Mereka tidak segan melakukan kekerasan apabila ditemui perempuan yang berjalan seorang diri di jalan tanpa didampingi oleh mahramnya, mereka melarang perempuan untuk memperoleh pendidikan setelah usia 10 tahun, melarang merempuan bekerja terutama di bidang yang didominasi lelaki, gadis-gadis usia 12 tahun dipaksa menikah, serta mengharuskan pemakaian burqa yang menutupi hampir seluruh wajah hingga kaki. Banyak perempuan Afghanistan menyatakan ketakutan akan kembalinya aturan hukum yang represif seperti yang pernah diterapkan Taliban sebelumnya.

Kini, setelah Taliban menguasai kembali Afghanistan, mereka mulai menjanjikan kata-kata manis terkait dengan hak-hak perempuan. Seperti misalnya, perempuan berhak mendapat pendidikan dari dasar hingga pendidikan tinggi dan boleh berkerja sesuai dengan prinsip syariah. Mereka juga mengklaim tidak ada batasan usia untuk bersekolah, burqa tidak lagi diwajibkan, dan menjamin hak-hak perempuan dalam pemerintahan. Namun, mereka tidak menjelaskan peran seperti apa yang akan dimilki perempuan di negara tersebut.

Sebagian masyarakat malah menanggapi hal ini sebagai upaya Afghanistan untuk menarik hati dunia internasional dengan cara mengumbar janji pada perempuan. Bahkan Malala menyampaikan di essay-nya bahwa, “gadis-gadis Afghanistan dan wanita muda kini putus asa atas pemikiran bahwa mereka mungkin tidak akan pernah diizinkan untuk melihat ruang kelas atau memegang buku lagi. Beberapa anggota Taliban mengatakan mereka tidak akan menolak pendidikan perempuan atau hak untuk bekerja. Tetapi mengingat sejarah Taliban dalam menindas hak-hak perempuan, ketakutan perempuan Afghanistan itu nyata. Kami mendengar laporan bahwa mahasiswa perempuan ditolak dari universitas mereka dan pekerja perempuan dari kantor mereka.”

Malala selaku aktivis HAM telah mendiskusikan mengenai hal ini dengan advokat pendidikan di Afghanistan tentang situasi mereka saat ini dan apa harapan mereka selanjutnya. Aktivis lain juga mengiginkan agar Taliban lebih spesifik tentang apa yang mereka izinkan. Tidak hanya berucap samar-samar bahwa ‘perempuan boleh pergi ke sekolah’.

“Kita akan memiliki waktu untuk memperdebatkan apa yang salah dalam perang di Afghanistan, tetapi di saat kritis ini kita harus mendengarkan suara-suara perempuan Afghanistan. Mereka meminta perlindungan, pendidikan, kebebasan, dan masa depan yang dijanjikan. Kita tidak bisa terus mengecewakan mereka. Kita tidak punya waktu luang,” ujar Malala.

Perempuan memilki peran penting dalam upaya pembangunan bangsa. Perempuan Afghanistan sudah terlalu sering dirampas hak-haknya dan dipaksa menjalani hidup dalam ketakutan dan pembatasan.

But it is not too late to help the Afghan people — particularly women and children – Malala Yousafzai.

Essay Malala dapat diakses di https://www.nytimes.com/2021/08/17/opinion/malala-afghanistan-taliban-women.html

Penulis: Nadya Syahrita Maghfirah

Sumber Gambar: Wikipedia

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *