Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Beberapa waktu lalu, sebuah serial televisi kontroversial dihentikan sementara penayangannya oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Stasiun televisi maupun rumah produksi dari serial Suara Hati Istri: Zahra dimintai evaluasi secara menyeluruh mengenai konten dari serial tersebut. 

Teguran ini dibagikan langsung dari akun instagram resmi KPI, @kpipusat. Dalam postingannya, KPI meminta evaluasi secara meyeluruh atas muatan yang berpotensi melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) KPI 2012. KPI menambahkan dalam postingannya bahwa evaluasi mencakup jalan cerita dan kesesuaiannya dengan klasifikasi siaran yang telah ditentukan (R) serta peran artis yang masih berusia 15 tahun sebagai istri ketiga.

Selain mendapat teguran dari pihak berwenang, serial ini juga mendapat kritikan dari masyarakat dan para artis. Dilansir melalui Kompas.com, sinetron dinilai tidak pantas menempatkan aktris dibawah umur untuk memerankan karakter dewasa dan bahkan sudah berkeluarga. Ditambah alur cerita di dalamnya dianggap permisif terhadap pernikahan anak di bawah umur.

Serial ini juga disiarkan pada momen yang kurang tepat. Di masa pandemi ini berita yang sering kita dengar hanya seputar angka kasus, prokes, PSBB, dan lain sebagainya. Mungkin banyak yang tidak memperhatikan bahwa angka pernikahan anak di bawah umur pun juga meningkat saat pandemi ini.

Liputan6 melansir penelitian dari Plan Internasional di Indonesia yang menyimpulkan penyebab utama dari pernikahan anak di bawah umur adalah rendahnya pendidikan, kesempatan di bidang ekonomi, serta kualitas pelayanan dan pendidikan kesehatan reproduksi, terutama untuk anak perempuan, serta angka kemiskinan yang juga menjadi penentu. 

Maraknya diskriminasi gender juga menjadi salah satu penyebab pernikahan anak di bawah umur. Hal ini berkaitan dengan adanya stereotip di masyarakat mengenai peran perempuan. Seperti perempuan lebih lemah dari laki-laki dan peran perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga. 

Suburnya stereotip ini juga dipengaruhi oleh rendahnya pendidikan. Tidak hanya di Indonesia saja, banyak daerah di berbagai negara juga mengalami krisis pendidikan. Sehingga akan sangat sulit untuk menghapus stereotip semacam ini dan pernikahan anak akan semakin marak.

Beberapa daerah juga memiliki tradisi yang cenderung merugikan perempuan. Seperti adanya pembenaran tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh laki-laki. Dengan demikian, mereka dapat mengatur istri mereka, dan mereka yakin dengan begitu hasrat seksual mereka terpenuhi.

Keterbatasan pendidikan ini juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Di daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, anak-anak terutama perempuan kesulitan untuk mendapatkan pendidikan yang cukup. Sehingga keluarga dari anak-anak perempuan ini segera menikahkan mereka  agar terbebas dari jerat finansial.

Di daerah tertentu seperti Nigeria, sangat lumrah menikahkan anak perempuan di bawah umur apabila ada pelamar yang memiliki kondisi finansial yang baik. Jika seorang anak perempuan tidak segera dinikahkan, ia justru akan menjadi bahan omongan bagi masyarakat sekitar, seperti tidak laku dan lain sebagainya.

Lantas, bagaimana cara mencegah pernikahan anak di bawah umur?

Dilansir melalui BBC News, pernikahan anak ini dapat dicegah melalui intervensi sosial. Di India, setiap keluarga akan mendapatkan kompensasi finansial karena tidak menikahkan putri mereka yang masih di bawah umur. Dengan bantuan finansial ini, diharapkan anak perempuan dapat menyelesaikan sekolah, memiliki pilihan dalam kehidupan dan menguasai keterampilan tertentu. Lambat laun, peningkatan kualitas pendidikan pada anak perempuan ini akan mengurangi lingkaran kemiskinan, yang otomatis juga mengurangi pernikahan anak.

Selain memberikan kompensasi finansial, dapat juga dilakukan konseling. Seperti yang dilakukan di Nigeria, para orang tua diberikan konseling untuk memberikan pandangan agar tidak menikahkan putri-putri mereka yang masih di bawah umur. Konseling ini cukup berpengaruh di sana dan berhasil merubah pemikiran orang tua yang hendak menikahkan anaknya di usia dini.

Layanan kesehatan seksual dan reproduksi juga perlu digiatkan kembali. Karena pada dasarnya pernikahan dini tidak hanya berpengaruh pada mental anak, tapi juga pada kesehatan alat reproduksi. Dikhawatirkan alat reproduksi pada anak di bawah umur sangat rentan sehingga dapat memicu penyakit yang hanya akan menambah masalah baru.

Sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi ini juga perlu diperuntukan kepada orang tua, untuk memberikan wawasan kepada mereka bahwa pernikahan dini bukanlah sebuah hal yang baik. Karena hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan anak mereka. Sosialisasi ini juga penting dalam mengurangi kasus seks beresiko.

Dalam konteks Indonesia, revisi terkait perubahan usia minimal angka pernikahan juga bisa disosialisasikan. Dimana, sebelumnya usia pernikahan minimal anak perempuan adalah 16 tahun berubah menjadi 19 tahun. Artinya, menurut UU No. 16 tahun 2019, usia minimal pernikahan adalah 19 tahun. Mari bersama, stop pernikahan dini bahkan dari tayangan televisi ya. Stay safe and healthy!

Tayangan Televisi dan Fenomena Pernikahan Dini

Beberapa waktu lalu, sebuah serial televisi kontroversial dihentikan sementara penayangannya oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Stasiun televisi maupun rumah produksi dari serial Suara Hati Istri: Zahra dimintai evaluasi secara menyeluruh mengenai konten dari serial tersebut. 

Teguran ini dibagikan langsung dari akun instagram resmi KPI, @kpipusat. Dalam postingannya, KPI meminta evaluasi secara meyeluruh atas muatan yang berpotensi melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) KPI 2012. KPI menambahkan dalam postingannya bahwa evaluasi mencakup jalan cerita dan kesesuaiannya dengan klasifikasi siaran yang telah ditentukan (R) serta peran artis yang masih berusia 15 tahun sebagai istri ketiga.

Selain mendapat teguran dari pihak berwenang, serial ini juga mendapat kritikan dari masyarakat dan para artis. Dilansir melalui Kompas.com, sinetron dinilai tidak pantas menempatkan aktris dibawah umur untuk memerankan karakter dewasa dan bahkan sudah berkeluarga. Ditambah alur cerita di dalamnya dianggap permisif terhadap pernikahan anak di bawah umur.

Serial ini juga disiarkan pada momen yang kurang tepat. Di masa pandemi ini berita yang sering kita dengar hanya seputar angka kasus, prokes, PSBB, dan lain sebagainya. Mungkin banyak yang tidak memperhatikan bahwa angka pernikahan anak di bawah umur pun juga meningkat saat pandemi ini.

Liputan6 melansir penelitian dari Plan Internasional di Indonesia yang menyimpulkan penyebab utama dari pernikahan anak di bawah umur adalah rendahnya pendidikan, kesempatan di bidang ekonomi, serta kualitas pelayanan dan pendidikan kesehatan reproduksi, terutama untuk anak perempuan, serta angka kemiskinan yang juga menjadi penentu. 

Maraknya diskriminasi gender juga menjadi salah satu penyebab pernikahan anak di bawah umur. Hal ini berkaitan dengan adanya stereotip di masyarakat mengenai peran perempuan. Seperti perempuan lebih lemah dari laki-laki dan peran perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga. 

Suburnya stereotip ini juga dipengaruhi oleh rendahnya pendidikan. Tidak hanya di Indonesia saja, banyak daerah di berbagai negara juga mengalami krisis pendidikan. Sehingga akan sangat sulit untuk menghapus stereotip semacam ini dan pernikahan anak akan semakin marak.

Beberapa daerah juga memiliki tradisi yang cenderung merugikan perempuan. Seperti adanya pembenaran tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh laki-laki. Dengan demikian, mereka dapat mengatur istri mereka, dan mereka yakin dengan begitu hasrat seksual mereka terpenuhi.

Keterbatasan pendidikan ini juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Di daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, anak-anak terutama perempuan kesulitan untuk mendapatkan pendidikan yang cukup. Sehingga keluarga dari anak-anak perempuan ini segera menikahkan mereka  agar terbebas dari jerat finansial.

Di daerah tertentu seperti Nigeria, sangat lumrah menikahkan anak perempuan di bawah umur apabila ada pelamar yang memiliki kondisi finansial yang baik. Jika seorang anak perempuan tidak segera dinikahkan, ia justru akan menjadi bahan omongan bagi masyarakat sekitar, seperti tidak laku dan lain sebagainya.

Lantas, bagaimana cara mencegah pernikahan anak di bawah umur?

Dilansir melalui BBC News, pernikahan anak ini dapat dicegah melalui intervensi sosial. Di India, setiap keluarga akan mendapatkan kompensasi finansial karena tidak menikahkan putri mereka yang masih di bawah umur. Dengan bantuan finansial ini, diharapkan anak perempuan dapat menyelesaikan sekolah, memiliki pilihan dalam kehidupan dan menguasai keterampilan tertentu. Lambat laun, peningkatan kualitas pendidikan pada anak perempuan ini akan mengurangi lingkaran kemiskinan, yang otomatis juga mengurangi pernikahan anak.

Selain memberikan kompensasi finansial, dapat juga dilakukan konseling. Seperti yang dilakukan di Nigeria, para orang tua diberikan konseling untuk memberikan pandangan agar tidak menikahkan putri-putri mereka yang masih di bawah umur. Konseling ini cukup berpengaruh di sana dan berhasil merubah pemikiran orang tua yang hendak menikahkan anaknya di usia dini.

Layanan kesehatan seksual dan reproduksi juga perlu digiatkan kembali. Karena pada dasarnya pernikahan dini tidak hanya berpengaruh pada mental anak, tapi juga pada kesehatan alat reproduksi. Dikhawatirkan alat reproduksi pada anak di bawah umur sangat rentan sehingga dapat memicu penyakit yang hanya akan menambah masalah baru.

Sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi ini juga perlu diperuntukan kepada orang tua, untuk memberikan wawasan kepada mereka bahwa pernikahan dini bukanlah sebuah hal yang baik. Karena hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan anak mereka. Sosialisasi ini juga penting dalam mengurangi kasus seks beresiko.

Dalam konteks Indonesia, revisi terkait perubahan usia minimal angka pernikahan juga bisa disosialisasikan. Dimana, sebelumnya usia pernikahan minimal anak perempuan adalah 16 tahun berubah menjadi 19 tahun. Artinya, menurut UU No. 16 tahun 2019, usia minimal pernikahan adalah 19 tahun. Mari bersama, stop pernikahan dini bahkan dari tayangan televisi ya. Stay safe and healthy!

Penulis: Annisa

Sumber Gambar: Freepik

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *