Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Kita sering sekali mendengar nama-nama seperti Simone de Beauvoir, Mary Wollstonecraft, Betty Friedan atau Emma Goldman ketika harus menyebutkan tokoh-tokoh feminis. Nama-nama tersebut berasal dari luar Indonesia, sehingga tidak heran banyak yang mengira, feminisme itu berasal dari barat. Padahal, Indonesia pun tidak kekurangan tokoh feminis yang dapat kita bangga-banggakan. Misalnya saja, Toeti Heraty Noerhadi.

Toeti Heraty merupakan anak sulung dari 6 bersaudara yang lahir pada  27 November 1933 di Bandung. Ia menutup usia pada Minggu, 13 Juni 2021. Kepergiannya membuat banyak pihak berduka, karena kontribusinya untuk Indonesia sangat besar. Ia adalah seorang seniman, pengajar, aktivis perempuan yang karya-karyanya melompati berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Berdirinya Jurnal Perempuan, Gugah Semangat Perlawanan

Jurnal Perempuan yang masih eksis hingga saat ini merupakan media feminis yang sangat penting. Saat ini Jurnal Perempuan terbit empat kali dalam satu tahun dan berisi kumpulan penelitian yang menekankan pada analisis feminis dan perspektif gender. Namun, pada tahun 1990-an, Jurnal Perempuan adalah media penting untuk menggugah semangat perlawanan.

Ia mendirikan Jurnal Perempuan bersama Gadis Arivia, Ratna Syafrida, Dhany dan Asikin Arif. Ia kerap menuliskan pemikirannya dalam Jurnal Perempuan terkait isu-isu perempuan dari berbagai sudut pandang juga menjadi pembicara. Bersama Yayasan Jurnal Perempuan, Toeti terlibat dalam lahirnya Suara Ibu Peduli pada tahun 1997.

Suara Ibu Peduli adalah sebuah wadah sekaligus strategi politik untuk menjatuhkan Orde Baru dengan menjual susu murah sebagai cara untuk meraih simpati masyarakat. Pasalnya saat itu harga susu melambung tinggi hingga 400 persen dan langka di pasaran.

Sastra dan Perempuan

Toeti percaya bahwa perempuan Indonesia cukup banyak menyuarakan feminisme melalui karya sastra. Ia pernah menjabarkan mengenai 7 periodisasi feminisme yang dinarasikan melalui karya sastra, yaitu:

  1. Sastra perempuan Indonesia (masa kolonial 1911 – 1942) oleh Kartini, Selasih, Suwarsih Djojopuspito, Rukijah.
  2. Ibu, istri, ibu-isme (1960 – sekarang) oleh Ike Supomo, La Rose, Titie Said, Mira W.
  3. Literatur feminis (1960 – sekarang) oleh NH Dini, Toeti Heraty, Marianne Katoppo, Julia Suryakusuma.
  4. Ekspresi subkultur minoritas dari komunitas etnis oleh Ani Sekarningsih, Oka Rusmini, Hanna Rambe, Clara Ng.
  5. Marjinalisasi keturunan kedua dari generasi kiri yang ditiadakan oleh Linda Christanty, Leila S. Chudori, Tatiana Lukman.
  6. Generasi baru penulis perempuan dari pesantren oleh Okky Madasari, Abidah El Khalieqy, Erni Aladjai.
  7. Fragrance literature oleh Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Laksmi Pamuntjak.

Toeti Heraty sendiri memiliki sederet karya sastra antara lain Sajak-Sajak 33 (1973), Sajak Pretensi (1982), Sembilan Kerlip Cermin (2000). Ia juga merupakan anggota Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) dan pernah dianugerahi Lifetime Achievement Award pada tahun 2018. Tahun 2017, Presiden Jokowi juga memberikan tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma atas kiprah Toeti di dunia kepenulisan.

Toeti Heraty juga menulis beberapa buku lain yang menyinggung isu gender seperti kumpulan prosa Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki (2012) dan Transendensi Feminin: Kesetaraan Gender Menurut Simone de Beauvoir (2018) yang berasal dari tesisnya di tahun 1961.

Gadis Arivia (jurnalperempuan.org) pernah menulis bahwa ia ingin agar Toeti Heraty dikenal sebagai femme vitale karena menurut Gadis, Toeti merayakan tubuh dan seksualitas perempuan, cara berada dan berpikir perempuan. Gadis Aria juga mengutip sajak Toeti Heraty yang berjudul “Post Scriptum,” sebagai berikut:

Ingin aku tulis

Sajak porno sehingga

kata mentah tidak diubah

Jadi indah, pokoknya

tidak perlu kiasan lagi

misalnya payudara jadi bukit,

tubuh wanita = alam hangat

senggama = pelukan yang paling akrab

yang sudah jelas

tulis sajak itu

antara menyingkap dan sembunyi

antara munafik dan jatidiri

Penulis: Rizki Febriani

Sumber Gambar: Wikipedia

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *