Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Masih dalam momentum bulan puasa, kamu akan familiar dengan suara tabuhan galon kosong yang dimainkan anak-anak komplek saat dini hari. Atau mungkin kamu jadi familiar dengan suara-suara menggelegar dari pengeras suara masjid yang awal bulan puasa tahun ini menjadi beban pikiran Zaskia Adya Mecca.

Lewat akun Instagramnya, Zaskia mengomentari cara masjid dekat rumahnya dalam membangunkan sahur. Ia pun diserang netizen, dianggap ribet karena mempermasalahkan hal sepele.

Padahal, yang dikeluhkan Zaskia ini ada benarnya ternyata. Jujur, sebelumnya saya tidak pernah mempermasalahkan agenda ribut-ribut membangunkan sahur, walau keadaan saya sedikit berbeda dengan Zaskia, karena saya lebih sering dibangunkan sama remaja yang keliling komplek. Ini dia yang saya rindukan dari bulan puasa, pikir saya begitu. Salah satu yang saya tunggu-tunggu dari bulan puasa memang lantunan “sahur… sahur!” yang biasanya dilakukan pemuda-pemuda di sekitar komplek.

Entah bagaimana, lantunan mereka membuat saya bersemangat untuk bangun, perasaan saya auto senang. Seolah menyimbolkan gerbang menuju bulan suci, dan setiap orang bergembira menyambut kehadirannya.

Awalnya suka, lama-lama murka

Setahun atau mungkin beberapa tahun yang lalu, sempat ada video yang viral. Sebuah video dari seseorang yang bertugas membangunkan sahur. Lewat mik masjid, ia berdendang “sahuuururururuuur”. Kita semua menertawakannya karena memang sangat menghibur. Lucu dan menyenangkan sekali melihatnya—benar-benar hiburan ketika ditonton di siang hari ketika tenggorokan sedang kering-keringnya.

Atau mungkin saya hanya tidak menghiraukan bagaimana perasaan kawan-kawan yang tidak puasa? Bisa jadi. Karena sekarang saya merasa bersalah sambil membayangkan rasanya jadi mereka. Dan hal ini kembali menjadi sebuah perbincangan di media sosial.

Aduh, jelas nggak enak banget lagi nyaman-nyamannya beristirahat, eh malah dikagetkan oleh gendangan galon yang kadang nggak ada harmoninya sama sekali. Bikin sakit kepala, terutama buat kawan-kawan yang memiliki gangguan tidur. Baru merem lima detik, mata dibuat membeletot lagi. Selain itu, ibu-ibu yang punya anak bayi juga pasti kesulitan. Masalahnya, bayi kalau sudah melek, susah lagi untuk pulasnya, mana belum sempat masak untuk makan sahur. Repotnya dobel, deh.

Nah, setelah berpikir naninuneno saya semakin positif kalau hal ini memang mengganggu. Hari pertama puasa, saya dibangunkan oleh adik-adik yang dengan semangat menabuh galon dan memukul-mukul botol kaca, mungkin bekas sirop atau saus, entahlah. Yang jelas, beneran deh, suaranya enggak merdu. Mereka hanya membuat suara-suara bising sembarangan, yang penting berisik dan orang-orang bisa terbangun. Setidaknya itu yang terjadi di sekitar rumah saya di bulan puasa tahun ini. Saya jadi kasihan sama yang tidak puasa, kan jadi sakit telinganya. Tapi, tapi, saya tetap mengapresiasi adik-adik itu. Kalau bisa kasih nilai, saya mau kasih 100 karena niatnya mulia dan semangatnya tinggi. Terima kasih, dik!

Saatnya mulai melek aturan  

Saya yakin banyak yang belum tahu, tapi ternyata dalam menggunakan pengeras suara masjid ada aturannya juga. Pengeras suara tidak boleh digunakan dengan suara yang terlalu keras dan sebaiknya digunakan oleh orang yang memiliki suara fasih, merdu, tidak sumbang. Tambahan: di bulan Ramadan, pengeras suara luar cuma boleh dipakai untuk kumandang takbir sebelum hari lebaran. Hal ini diatur oleh Kementerian Agama RI dalam Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam tahun 1978. Wah, yang selama ini dianggap lazim dan sudah hidup dalam diri saya sebagai suatu adat ternyata melenceng dari apa yang sudah diatur jauh-jauh hari, bahkan sebelum saya lahir.

Saya terbiasa mendengarkan konser dini hari saat bulan puasa, sampai lupa dengan kondisi orang lain. Negeri kita tercinta ini memang memiliki banyak penduduk Muslim, tapi bukan berarti kita tinggal sendiri. Kita kan masih punya saudara setanah air yang berbeda keyakinan. Kalau sudah ada yang bicara, berarti memang sudah mulai mengganggu dong? Mungkin memang sudah saatnya kita membangunkan sahur dengan cara yang lebih sopan. Jangan hanya asal taraktakdungdung, apalagi jika dilakukan demi konten. Dan tolonglah, berikan ruang aman juga bagi kami yang berbicara. Nanti saya nulis begini, dianggap menistakan agama sendiri lagi. 

Sebenarnya sih, kita yang berpuasa bisa saja berinisiatif sendiri dengan membuat alarm supaya tidak ketinggalan jadwal sahur. Lagian, kita juga nggak suka, kan kalau diberisiki tetangga sama agenda dangdutannya? Menurutmu bagaimana?

Penulis: Firza Aliya A.

Sumber gambar: Freepik

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *