Kami senang untuk dapat terhubung denganmu
Kamu dapat meninggalkan pesan melalui

Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) merupakan organisasi yang berdiri pada 4 Juni 1950 di Semarang, Jawa tengah. Organisasi ini selama masa Orde Baru mendapatkan stigma yang cukup buruk dari pemerintah. Mereka dicap sebagai organsasi komunis dan mengabil peran aktif dalam pembunuhan jenderal yang terjadi pada 30 September 1965. Kala itu, Tarian Bunga Harum merupakan propaganda yang disebarluaskan oleh aparat, di mana para perempuan menari dalam keadaan tanpa busana yang menimbulkan ‘pergaulan bebas’. Propaganda itu tersebar dengan cepat dan Gerwani disebut-sebut menyiksa tujuh perwira militer dengan menusuk mereka dan menyileti alat vital para korban.

Narasi mengenai Gerwani pelan-pelan terbongkar terutama setelah banyak ahli sejarah mulai melakukan penelitian sejarah pada masa-masa itu. Misalnya saja, melalui buku yang ditulis oleh Saskia Wierenga berjudul Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia yang terbit pada 1999. Buku itu menguak sisi lain mengenai sejarah pergerakan perempuan di Indonesia dan bagaimana gerakan tersebut dihancurkan dengan tameng penghapusan komunisme. Sampai saat ini, peristiwa 1965 masih menjadi peristiwa kelam, dimana melalui Pengadilan Rakyat Internasional yang digelar di Den Haag, Indonesia dinyatakan bertanggungjawab terhadap 10 tindakan kejahatan HAM berat yang terjadi pada kurun 1965 – 1966. Kejahatan tersebut diantaranya adalah pembunuhan massal, pemusnahan, pemenjaraan, perbudakan, penyiksaan, penghilangan paksa, kekerasan seksual, pengasingan, propaganda palsu, keterlibatan negara lain, hingga genosida (bbc.com).

Tapi, mari kita flashback ke masa-masa awal berdirinya Gerwani. Pendirian Gerwani tentu tidak lepas dari tokoh-tokoh yang berperan dalam organisasi ini. Ialah Umi Sardjono, yang mungkin gaung namanya tidak begitu didengar dalam sejarah Indonesia. Peran Umi Sardjono sebagai ketua Gerwani sepanjang era pergerakan dan revolusi dibungkam oleh tuduhan-tuduhan para penguasa Orde Baru atas gerakan-gerakannya yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Umi Sardjono lahir dengan nama Suharti Sumodiwirdjo di Salatiga pada 24 Desember 1923 dari orangtua yang mengalami pencerahan sehingga memperbolehkan anak perempuan bersekolah. Ia mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan seperti remaja perempuan pada umumnya di masa itu, Ia juga membaca Habis Gelap Terbitlah Terang. Menurut peneliti dan aktivis Ruth Indiah Rahayu, hal inilah yang mendorong Umi Sardjono melibatkan diri dalam aktivis organisasi pergerakan nasional Partai Indonesia Raya (Parindra). Di saat yang bersamaan pula, Umi Sardjono mengidolakan S.K. Trimurti yang merupakan wartawan perempuan yang kemudian menjabat sebagai menteri perburuhan di kabinet Amir Syarifuddin. Tercatat bahwa pertemuan Umi Sardjono dan S.K Trimurti baru terjadi pada tahun 1943 di Blitar. Keduanya ditahan di penjara yang sama saat Umi berusia 20 tahun, Ia dipenjara oleh tentara Jepang karena telah melakukan pergerakan bawah tanah untuk menentang pemerintahan Jepang. Bagi Umi, keluar-masuk penjara bukanlah hal baru dan tidak menyurutkan semangatnya untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan Indonesia. Umi Sardjono lantas langsung akrab dengan S.K. Trimurti saat ditahan karena memiliki gagasan perjuangan buruh dan gerakan perempuan progresif. Umi banyak belajar dari Trimurti dan tidak segan memanggil perempuan yang lebih tua 11 tahun dengannya dengan sebutan Yu Tri (sebutan kakak perempuan dalam bahasa Jawa).

Mengutip tulisan Ruth Indiah Rahayu, panggilan Umi diperolehnya selama bergabung dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Jepang. Kala itu, Suharti kerap menggunakan nama panggilan Umi sebagai nama samarannya. Adapun Sardjono merupakan nama yang Ia peroleh setelah menikah dengan seorang pemuda bernama Sukisman—ketua komunis sebelum Musso. Meskipun telah berstatus sebagai seorang istri, semangat Umi Sardjono untuk tetap berjuang tidak sedetik pun redup. Bersama suaminya, Umi melanjutkan pergerakan bawah tanah dengan membuka warung makan di depan markas tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar—taktik yang umum dilakukan untuk menjaring informasi dari pihak musuh. Warung ini juga dijadikan sebagai pos penghubung antara para aktivis gerakan komunis bawah tanah. Namun, pada tahun 1944, tentara Jepang mengepung warung makan Umi dan suaminya. Mereka dituduh membantu Supriyadi dalam aksi pemberontakan PETA. Umi dan Supriyadi kemudian ditahan di penjara di Blitar—tempat Umi kemudian bertemu dengan S.K Trimurti. Umi sempat menceritakan hari-harinya di dalam penjara Jepang. Ia bersama-sama tahanan lain dipukuli dalam posisi digantung terbalik tanpa diberi makan atau minum dan dipaksa minum air kencingnya sendiri selama berhari-hari. Belakangan Umi menyatakan keheranannya tentang bagaimana Ia dan tahanan lain bisa bertahan hidup dengan keadaan demikian. “barangkali air kencing itu yang membuat saya tetap sehat, sama dengan tahanan lainnya”, ujar Umi Sardjono.

Setelah Umi dan Trimurti keluar dari penjara, keduanya ditampung di rumah Ibu Wardoyo yang merupakan ibu kandung Bung Karno atas permintaan walikota Blitar. Meskipun demikian, perjuangan Umi belum usai. Umi Sardjono kembali memanggul senjata kala serangan Belanda terhadap Indonesia meletus kembali. Mengutip penuturan Sri Sukatno—mantan sekretaris DPD Gerwani DKI Jakarta, Umi bergabung dengan Laskar Wanita Indonesia (Laswi) dan maju ke garda depan perang kemerdekaan. Umi dan suaminya kemudian melanjutkan perjuangan di Pesindo. Namun, Pesindo didominasi oleh laki-laki, sedangkan aktivis perempuan saat itu tidak ada yang menjabat di Dewan Pimpinan Pusat. Pada 1945, Umi bersama Trimurti mendirikan Barisan Buruh Wanita (BBW) yang berdiri di bawah Barisan Buruh Indonesia (BBI). BBI dibentuk untuk mempermudah mobilisasi serikat buruh. Saat kongres BBI, tercetuslah pemikiran untuk membentuk Partai Buruh Indonesia. Selanjutnya, BBI menyatakan bahwa revolusi nasional yang telah dicapai belum selesai sepenuhnya. Revolusi yang belum terlaksana adalah revolusi sosialis dan untuk menghancurkan struktur kolonial, imperialis, dan kapitalis. Oleh karena itu, BBI membentuk Laskar Buruh di pabrik, dan BBW untuk perempuan yang didirikan oleh Umi dan Trimurti. BBW ditujukan untuk menjaga perjuangan buruh perempuan tetap berada dalam haluan sosialis.

Kemudian pada tahun 1950, Umi beserta rekannya Trimurti mendirikan Gerakan Wanita Istri Sedar (Gerwis) sebagai wadah gerakan revolusi perempuan dan mengadakan kongres sebanyak dua kali. Pada 1954, Gerwis kemudian berubah nama menjadi Gerwani dan berkembang pesat hingga beranggotakan ratusan ribu perempuan. Umi Sardjono turut berperan memperjuangkan kesetaraan gender, penolakan terhadap poligami, dan kesadaran akan pentingnya peran perempuan dalam politik. Seiring waktu, rakyat Indonesia mulai mengenal Gerwani dan menarik simpati banyak orang, hingga memiliki kurang lebih 1,5 juta orang pada tahun 1960-an. Program yang ada juga semakin banyak, seperti kursus pemberantasan buta huruf, penitipan anak, dan pendirian sekolah.

Kejayaan yang gilang-gemilang itu lantas hancur seketika kala terjadi guncangan politik pada tahun 1965, propaganda yang muncul di masyarakat membuat Gerwani digambarkan sebagai organisasi yang turut mengambil peran atas pembunuhan tujuh perwira tentara. Annie Pohlman dalam Women, Sexual Violence and Indonesian Killings of 1965-1966 menyatakan, Umi Sardjono dan Kartinah merupakan dua dari beberapa perempuan yang ditangkap pasca peristiwa G30S/PKI. Umi dibawa ke Bukit Duri untuk diinterogasi dan kemudian berakhir di Plantungan. Selama ditahan, Umi dipaksa mengakui bahwa Gerwani terlibat dalam aksi brutal di Lubang Buaya. Namun, Umi berisikukuh dan menolak mengakui hal itu, “tentu saja saya menolak tuduhan tersebut karena sudah sangat jelas bahwa mereka tidak memiliki bukti keikutsertaan kami (Gerwani) di Lubang Buaya,” kata Umi pada Pohlman pada sebuah wawancara tahun 2005.

Akibat peristiwa ini, ketika Soeharto naik menjadi presiden, Ia lantas memberangus Gerwani. Tuduhan atas anggota Gerwani dituliskan dalam koran Berita Yudha dari Angkatan Bersenjata yang menyebutkan nama pelaku anggota Gerwani, yaitu Fainah dan Jamilah. Fainah dan Jamilah lantas membantah dan menyatakan bahwa mereka dipaksa menari bugil.  Sebagai tambahan, berdasarkan hasil visum ternyata tidak ditemukan adanya tanda-tanda para jendral tewas karena mutilasi, siksaan pada organ vital para korban seperti cerita yang tersebar tidak terbukti sama sekali. Hasil visum menunjukkan bahwa para korban meninggal karena luka tembak. 

Kendati demikian, selama sisa hidupnya Umi Sardjono tetap memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Hingga akhirnya Ia wafat pada 11 Maret 2011 dan tubuhnya dikebumikan di dalam satu pusara dengan suaminya di TPU Cipinang Asem, Jakarta Timur. Meski kini jiwamu telah berpisah dari ragamu, namun ide dan semangatmu untuk emansipasi perempuan akan selalu hidup. 

Penulis: Nadya Syahrita Maghfirah

Sumber Gambar: wikipedia

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *